Minggu, 15 November 2009

Manajemen Komunikasi

MANAJEMEN KOMUNIKASI
*I Made Widiantara, S.Psi.,M.Si

1. Mengapa “konstruksi makna” lebih penting dari hanya “pertukaran pesan” untuk menjelaskan Manajemen Komunikasi?
Jawaban: Konstruksi makna mengacu pada sejauh mana kita menangkap sebuah makna yang mengenai panca indera kita. Peran panca indera sangat penting dsini disamping pengalaman dan sistem persyarafan yang selalu mengolah informasi yang masuk ke dalam otak manusia. Pembentukan makna disini terjadi karena adanya objek kata atau bentuk tertentu dari lingkungan dimana kita berada.
Seperti dikatakan Michael Kaye dengan ungkapan “What we must realize is that the heart of communication is not in the surface but in the meanings or interpretations that we ascribe to the message” (Kaye, 1994:8). Dari sini dapat dijelaskan bahwa sebuah arti dalam bentuk permukaan sebuah pesan tidak akan berarti tanpa disertai dengan adanya penyampaian makna yang sebenarnya ada pada pesan tersebut. Dalam interaksi antar individu terjadi berbagai pertukaran makna, yang sebelumnya telah disepakati bersama. Misalnya adanya pernyataan bahwa yang seorang bercirikan tubuh ”tinggi” dan atau bertubuh ”pendek”. Sebelumnya antara mereka telah memiliki persamaan makna dalam pikiran mereka apa yang dinamakan ”tinggi” dan apa yang dinamakan ”pendek”. Sehingga walaupun cuma kata ”tinggi” maupun ”pendek” yang ada dalam komunikasi antara dua orang tersebut, tetapi dalam benak masing-masing telah saling memahami apa makna yang terkandung dalam kata-kata tersebut.
Dalam menajemen komunikasi, ”konstruksi makna” ini lebih penting daripada hanya ”pertukaran pesan”, karena dalam manajemen komunikasi terjadi uraian komunikasi yang lebih mendetail, yang menyangkut baik penjelasan konseptual sampai rencana operasional, termasuk monitoring, evaluasi atau audit komunikasi. Jadi penyampaian pesan harus dapat dimaknai secara mendalam, sehingga dapat menanamkan pengertian yang konperensif pada benak penerima berbagai hal yang menyangkut isi pesan yang disampaikan tersebut.

2. Apa pendapat Anda tentang pernyataan bahwa Manajemen Komunikasi merupakan bidang kajian dalam Ilmu Komunikasi yang terlalu teoritis?
Jawaban: Manajemen komunikasi adalah bidang kajian dari ilmu komunikasi yang bersifat teoritis? Tentu tidak seratus persen benar, karena pada manajemen komunikasi memberikan kita pemahaman tentang terjadinya makna yang terkandung dalam setiap isi pesan yang disampaikan kepada orang lain dengan lebih mengutamakan terjadinya ”konstruksi makna”. Artinya bahwa, pesan yang disampaikan tidak hanya apa yang terlihat di permukaan, tetapi lebih daripada itu. Sehingga dalam penyampaiannya diperlukan uraian yang lebih mendetail sehingga penerima pesan memahami apa maksud dan tujuan yang ingin disampaikannya kepada penerima tersebut. Lebih jauh pada manajemen komunikasi lebih cenderung menekankan pada proses komunikasi yang terjadi. Karena menekankan pada proses komunikasi yang terjadi, bukan pada hasil akhir yang diinginkan. Maksudnya bahwa, dalam komunikasi yang terjadi ada semacam berbagai proses yang harus dilalui untuk kemudian sampai pada hasil komunikasi yang diinginkan. Lebih jauh Michael kaye menguraikan, “how people manage their communication processes through constructing meaning about their relationships with others in various settings (Kaye, 1994: xii)”. Jadi jelas, bahwa manajemen komunikasi adalah bagaimana seseorang mengelola proses komunikasinya melalui konstruksi makna yang terjadi dalam hubungannya dengan orang lain dengan berbagai situasi atau keadaan. Jadi, manajemen komunikasi memungkinkan seseorang melakukan proses komunikasi dengan caranya sendiri, dalam proses yang dikelolanya agar orang lain mendapatkan makna dari komunikasi yang terjadi secara lebih mendalam. Karena pada manajemen komunikasi harus dilalui dari proses perencanaan, tinjauan konseptual, implementasi, evaluasinya sampai dengan monitoring yang nantinya dilakukan.
3. Apa yang Anda ketahui tentang ”Self” seperti yang dijelaskan Michael Kaye?
Jawaban: ”Self” seperti yang dijelaskan oleh Michael Kaye, lebih menekankan pada kebaradaan ”self” sebagai agen perubahan. Maksudnya, bahwa ”self” dengan segala aspek yang dimilikinya baik itu, persepsinya, pengalamannya, ide atau pandapatnya, emosionalnya, nilai-nilai spriritualnya, keunikan pribadinya serta yang lainnya dalam interaksi komunikasi lebih tertuju pada adanya perubahan yang terjadi. Dalam bukunya Michael Kaye, mengetengahkan bahwa ”self” atau yang kalau kita persepsikan dalam bahasa Indonesia sebagai ”diri” sering diposisikan sebagai makna yang dengan sendirinya hadir dalam setiap interaksi, walau mungkin tanpa disertai dengan bahasa verbal. Sebagai contoh, jika pada suatu perkuliahan seseorang hadir di dalam kelas dengan memakai baju warna merah, tentunya kehadiran seseorang tersebut dalam kelas ikut memberikan suasana kelas yang semakin beragam dengan warna baju yang dikenakannya tersebut. Karena mungkin teman-teman yang lainnya juga menggunakan baju yang berbeda-beda, sehingga tampak berwarna-warni, dan ini terjadi karena kehadiran ”diri” tersebut. Coba kalau tidak ada yang menggunakan baju merah, mungkin keadaan kelas tidak akan kelihatan berwarna-warni. terlebih lagi jika disertai dengan bahasa non verbal, mungkin saja keadaan kelas menjadi kelas yang ramai dengan suara percakapan ataupun suara berbisik-bisik karena setiap ”diri” tadi berbicara tidak keras.

Tipologi Teori Komunikasi Massa

Tipologi Teori Komunikasi Massa
* I Made Widiantara, S.Psi.,M.Si

1. Menurut Ilmu yang melatarbelakangi
a. Ilmu Psikologi: Hypodermic Needle Theory, Media Equation Theory, Uses and Gratification Theory, dan Media Critical Theory
b. Ilmu Antropologi: Cultivation Theory, Cultural Imperialism Theory
c. Ilmu Sosiologi: Spiral of Silence Theory, Diffusion of Innovation Theory, Agenda setting Theory
d. Ilmu Fisika : Technological Determinism Theory

2. Menurut salurannya
a. Langsung kepada sasaran atau audiens khusus: Spiral of Silence Theory
b. Menggunakan media tertentu: Hypodermic Needle Theory, Cultivation Theory, Cultural Imperialism Theory, Media Equation Theory, Technological Determinism Theory, Uses and Gratification Theory, Agenda setting Theory, Media Critical Theory, dan Diffusion of Innovation Theory

3. Menurut partisipasi audiens
a. Partisipasi aktif: Diffusion of Innovation Theory, dan Uses and Gratification Theory
b. Partisipasi pasif: Hypodermic Needle Theory,Cultivation Theory, Cultural Imperialism Theory, Media Equation Theory, Spiral of Silence Theory, Technological Determinism Theory, Agenda setting Theory, dan Media Critical Theory


3. Komunikasi massa menurut bentuknya
a. Surat kabar
b. Majalah
c. Radio siaran
d. Televisi
e. Film
f. Komputer dan Internet

4. Komunikasi Massa menurut Fungsinya
a. Informasi
b. Hiburan
c. Persuasi
d. Transmisi Budaya
e. Mendorong Kohesi Sosial
f. Pengawasan
g. Korelasi
h. Pewarisan sosial

5. Komunikasi massa menurut modelnya
a. Model aliran dua tahap
b. Model aliran banyak tahap
c. Model Melvin DeFleur
d. Model Michael W Gamble
e. Model HUB
f. Model Bruce Westley dan Malcon McLean
g. Model Malezke
h. Model Bryant dan Wallace

6. Komunikasi Massa menurut efeknya
a. Efek primer
b. Efek sekunder
c. Efek tidak terbatas
d. Efek terbatas
e. Efek moderat

NB: Dari berbagai sumber

Jumat, 13 November 2009

MEMAHAMI BAHASA TUBUH CALON PENUMPANG
ANGKUTAN KOTA DI JALAN RAYA BANDUNG
(Analisis Pendekatan Interaksi Simbolik)
* I Made Widiantara, S.Psi.,M.Si


I. Pendahuluan
Setiap hari kita hampir selalu melewati jalan raya, apakah untuk kepentingan pergi ke kampus, ke pusat perbelanjaan atau sekedar berkunjung ke tempat keluarga dan teman. Terkecuali bagi mereka yang mempunyai kendaraan sendiri dan menggunakan kendaraan orang lain mungkin tidak begitu menyadari akan sebuah permasalahan tentang bahasa simbolik calon penumpang yang akan naik kendaraan umum atau yang biasa disebut angkot (angkutan kota).
Bagi para sopir angkot mungkin ini adalah keterampilan tambahan selain kemampuan menyetir mobil, yang sangat mendukung kelancaran dan pendapatan mereka, karena dengan memahami bahasa tubuh calon penumpang ini, para sopir angkot akan semakin banyak mendapat penumpang yang berarti semakin banyak setorannya. Sopir angkot sepertinya telah terbiasa dengan bahasa tubuh calon penumpang, karena mau tidak mau dalam menjalankan profesinya mereka semestinya sudah paham betul bagaimana mengetahui penumpang yang mau naik angkot dan penumpang mana yang tidak mau naik ke angkotnya.
Mungkin adalah suatu kesalahan besar bagi sopir angkot bila mereka tidak paham betul bagaimana menerima tanda atau bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh calon penumpang sebagai penumpangnya. Ada berbagai gaya dan ciri khas bagi bahasa tubuh calon penumpang yang kalau dicermati lebih jauh akan didapatkan beberapa kategori yang sangat layak untuk dianalisis, sehingga akan memberikan pemahaman yang mendalam bagi kita semua tentang bagaimana interaksi ini terjadi antara para sopir angkot dan para calon penumpangnya.
Untuk mengetahui hal ini peneliti berusaha melakukan wawancara terhadap para sopir angkot dan pengamatan pada para calon penumpang yang mungkin akan naik angkot di jalur jalan Dago Bandung menuju terminal Kebon Kelapa. Penelitian ini dilakukan pada saat peneliti naik angkot dan seraya ikut mempraktekkan bahasa tubuh dan bagaimana respon sopir angkot dalam menanti para calon penumpang agar naik ke angkotnya. Dan ini tentunya yang sesuai dengan arah tujuan bagi para calon penumpang angkot.

II. Kajian Teori dan Pendekatan
Dalam menganalisis tentang tanda dan simbol bahasa tubuh atau komunikasi nonverbal ini, tak akan pernah terlepas dari analisis interaksi simbolik yang pertama kali diperkenalkan oleh George Herbert Mead, yang kemudian dilanjutkan oleh murid-muridnya. Adalah interaksi simbolik dengan tokohnya George Herbert Mead, yang mengakui bahwa interaksi adalah suatu proses interpretif dua-arah.
[1] Jika dianalisis dengan salah satu prinsip perspektif teori interaksi simbolik dari George Ritzer (dalam Mulyana, 2002) sangat relevan, bahwa orang mampu mengubah makna dan simbol yang mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi berdasarkan interpretasi mereka atas situasi. Interaksionisme simbolik mengandaikan suatu interaksi yang menggunakan bahasa, isyarat, dan berbagai simbol lain. Melalui simbol-simbol itu pula manusia bisa mendefenisikan, meredefenisikan, menginterpretasikan, menganalisis, dan memperlakukan sesuatu sesuai dengan kehendaknya.
Simbol adalah lingkungan sosial yang diterjemahkan oleh individu yang ada di dalamnya, termasuk dalam memberi makna dan menterjemahkannya ke dalam arti dan makna yang disepakati bersama. Bahasa tubuh seseorang adalah sebuah tanda yang memberikan banyak arti makna dalam artian sejauh mana seseorang dapat menterjemahkan bahasa tubuh tersebut sehingga mendapatkan maksud yang diinginkan untuk memenuhi tujuan individu tersebut.
Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka. Definisi yang mereka berikan kepada orang lain, situasi, objek, dan bahkan diri mereka sendirilah yang menentukan perilaku mereka. Manusia bertindak hanya berdasarkan definisi atau penafsiran mereka atas objek-objek di sekeliling mereka.
[2]
Dalam pandangan interaksi simbolik, seperti ditegaskan oleh Blumer, proses sosial dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan menegakkan aturan-aturan, bukan aturan-aturan yang menciptakan dan menegakkan kehidupan kelompok. Hal ini berlaku bagi komunitas pengguna angkutan umum, yang terbiasa dengan interaksi simboliknya dalam perjalanan naik angkot. Dengan penggunaan simbol ini, setidaknya setiap orang menjadi terbiasa dengan sikap yang ditunjukkan untuk mendapat perhatian para sopir angkot untuk menghampirinya sehingga tujuan naik angkotpun terpenuhi.
Menurut teoritisi interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol. Ketertarikan mereka pada cara manusia menggunakan simbol-simbol yang mempresentasikan apa yang mereka maksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya, dan juga pengaruh yang ditimbulkan oleh penafsiran atas simbol-simbol ini terhadap perilaku pihak-pihak yang terlibat dalam interaksi sosial. Dalam pandangan interaksi simbolik, perilaku manusia pada dasarnya adalah produk dari intepretasi mereka atas dunia di sekililing mereka.
Adapun ringkasnya, interaksionisme simbolik dapat didasarkan pada premis-premis berikut
[3]:
1. Individu merespon suatu situasi simbolik. Mereka merespon lingkungan, termasuk objek fisik (benda) dan objek sosial (perilaku manusia) berdasarkan makna yang dikandung komponen-komponen lingkungan tersebut bagi mereka. Jadi, individulah yang dianggap aktif untuk menentukan lingkungan mereka sendiri
2. Makna adalah produk interaksi sosial, karena itu makna tidak melekat pada objek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa. Negosiasi itu dimungkinkan karena manusia mampu menanami segala sesuatu, bukan hanya objek fisik, tindakan atau peristiwa (bahkan tanpa kehadiran objek fisik, tindakan atau peristiwa itu), namun juga gagasan yang abstrak. Melalui penggunaan simbol itulah manusai dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang dunia. Jadi makna bersifat subjektif dan sangat cair.
3. Makna yang diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial. Peruaban interpretasi dimungkinkan karena individu dapat melakukan proses mental, yakni berkomunikasi dengan dirinya sendiri.
Oleh George Ritzer, meringkas teori interaksi simbolik ke dalam prinsip-prinsip,
[4] yaitu manusia tidak seperti hewan lainnya karena manusia dibekali kemampuan berpikir. Kemampuan berpikir itu dibentuk oleh interaksi sosial, dan dalam interaksi sosialnya manusia mulai belajar makna dan simbol yang memungkinkan mereka menerapkan kemampuan khas mereka sebagai manusia, yakni berpikir. Makna dan simbol memungkinkan orang melanjutkan tindakan (action) dan interaksi yang khas manusia. Setiap orang mampu memodifikasi atau mengubah makna dan simbol yang mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi berdasarkan interpretasi mereka atas situasi. Manusia mampu melakukan modiffikasi dan perubahan ini karena, antara lain; kemampuan mereka berinteraksi dengan diri sendiri, yang memungkinkan mereka memeriksa tahapan-tahapan tindakan, menilai keuntungan dan kerugian relatif dan kemudian memilih salah satunya. Pola-pola tindakan dan interaksi yang jalin menjalin ini membentuk kelompok dan masyarakat.
Mead menekankan pentingnya komunikasi, khususnya melalui mekanisme isyarat vokal (bahasa), karena isyarat vokallah yang potensial menjadi seperangkat simbol yang membentuk bahasa. Tetapi isyarat verbal saja tidak cukup menggambarkan sebuah makna dalam diri manusia, karena komunikasi melibatkan tidak hanya proses verbal yang berupa kata, frase atau kalimat yang diucapkan dan di dengar, tetapi juga proses nonverbal. Proses nonverbal disini seperti isyarat, ekspresi wajah, kontak mata, postur dan gerakan tubuh, sentuhan, pakaian, artefak, diam, temporalitas dan paralinguistik.
[5] Jadi komunikasi nonverbal mempunyai peran yang cukup besar dalam pembentukan makna dalam lingkungan sosial, terlebih lagi menentukan makna dengan tujuan yang terselubung dari perilaku individu.
Interaksi simbolik mengandung pokok-pokok tentang komunikasi dan masyarakat. Jerome Manis dan Bernard Meltzer
[6], mengatakan ada tujuh dasar dan proposisi dalam interaksi simbolik, yaitu:
1. Manusia memahami sesuatu dengan menandai makna pada pengalaman mereka
2. Pemaknaan adalah belajar dari proses interaksi antara manusia
3. Semua struktur dan institusi sosial dihasilkan oleh interaksi manusia dengan yang lainnya
4. Perilaku individu tidak ditentukan dengan kejadian-kejadian yang telah terjadi, melainkan dengan keralaan
5. Pikiran terdiri dari ucapan yang tersembunyi, merefleksi interaksi satu sama lain
6. Perilaku diciptakan atau dihasilkan dari interaksi kelompok sosial
7. Seseorang tidak dapat memahami pengalaman manusia dengan mengamati perilaku yang tersembunyi.
Pada hakekatnya komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia, yang dinyatakan dalam pikiran atau perasaan dengan menggunakan bahasa (verbal) atau isyarat (nonverbal) sebagai alat perwujudannya. Berdasarkan pemahaman hakekat komunikasi tersebut, Effendy
[7] mengkategorikan proses komunikasi menajdi dua kategori, yaitu; pertama, proses komunikasi dalam perspektif psikologis. Dalam perspektif ini, proses komunikasi terjadi pada diri peserta komunikasi (komunikator dan komunikan); kedua, proses komunikasi dalam perspektif mekanistis. Dalam perspektif ini, proses komunikasi terjadi ketika peserta komunikasi melemparkan pesan dengan bibir kalau lisan, tangan jika tulisan, sampai pesan ditangkap oleh peserta lainnya. Selanjutnya proses perspektif mekanistik ini dapat dikelompokkan lagi menjadi beberapa, yaitu proses komunikasi secara primer, proses komunikasi secara sekunder, proses komunikasi secara linier, dan proses komunikasi secara sirkuler.
Dalam proses komunikasi antara sopir dengan calon penumpang dapat dikategorikan ke dalam proses komunikasi secara primer yaitu menekankan pada penggunaan bahasa verbal dan nonverbal. Secara verbal dapat saja seorang calon penumpang memanggil atau berteriak dengan memanggil sopir angkot yang sedang melintas di jalan raya, seraya berharap mendekat kepadanya. Sedangkan secara nonverbal, seorang calon penumpang menggunakan bahasa tubuhnya untuk menarik perhatian sopir angkot agar menghampirinya dan memberikan kesempatan naik ke angkotnya.
Bahasa nonverbal atau kita lebih spesifikan lagi menjadi pesan kinesik atau pesan yang menggunakan gerakan tubuh yang berarti terdiri dari tiga komponen utama, yaitu: pesan fasial, pesan gestural dan pesan postural. Diantara berbagai petunjuk nonverbal, petunjuk fasial adalah yang paling penting dalam mengenali perasaan persona stimuli. Ahli komunikasi nonverbal, Dale G. Leathers (1976:21),
[8] menulis:
”Wajah sudah lama menjadi sumber informasi dalam komunikasi interpersonal. Inilah alat yang sangat penting dalam menyampaikan makna. Dalam beberapa detik ungkapan wajah dapat menggerakkan kita ke puncak keputusasaan. Kita menelaah wajah rekan dan sahabat kita untuk perubahan-perubahan halus dan nuansa makna dan mereka. Pada gilirannya menelaah kita.”
Pesan gestural menunjukkan gerakan sebagian anggota badan seperti mata dan tangan untuk mengkomunikasikan berbagai makna. Menurut Galloway
[9], pesan gestural kita gunakan untuk mengungkapkan: (1) mendorong atau membatasi, (2) menyesuaikan atau mempertentangkan, (3) responsif atau tak responsif, (4) perasaan positif atau negatif, (5) memperhatikan atau tidak memperhatikan, (6) melancarkan atau tidak tidak reseptif, (7) menyetujui atau menolak.
Calon penumpang yang bertujuan naik angkot ke tujuan tertentu yang setidaknya sudah berdiri di pinggir jalan, tentunya akan menunjukkan komunikasi nonverbal yang kurang lebih sama, secara umum. Dan bahasa tubuh yang dipergunakan merupakan bentuk komunikasi yang sudah menjadi komunikasi nonverbal yang dipahami oleh sopir angkot.
Setelah uraian beberapa kajian teori diatas maka pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan dengan interaksi simbolik, dimana bahwa penelitian dilakukan dengan wawancara terhadap sopir angkot sebagai salah satu komponen penerima terjadinya komunikasi nonverbal dalam penelitian ini. Dimana bahwa sopir angkot sebagai subjek kunci penelitian, karena sopir angkot yang paling memahami penggunaan bahasa nonverbal calon penumpang di jalan raya. Dan sopir angkot dianggap yang kompeten dengan pemahaman yang mendalam tentang komunikasi nonverbal penumpang, dimana sangat mempengaruhi kesuksesannya dalam menambah pendapatan sebagai penyedia jasa angkutan. Sedangkan pengamatan dilakukan terhadap para calon penumpang yang sedang berada di pinggir jalan raya, yang sedang menunggu angkot untuk mengantarnya ke tempat tujuan.
Pengamatan dilakukan di sepanjang jalan Juanda atau yang lebih dikenal dengan jalan Dago sampai terminal Kebun Kelapa. Karena menurut peneliti di jalan tersebut cukup representatif sebagai lokasi penelitian ini. Dimana dapat dibedakan dengan jelas para calon penumpang yang akan naik angkot, karena ruas jalannya cukup lebar dan trotoarnya juga kelihatan. Penelitian ini dilakukan dalam rentang waktu mulai awal bulan Mei 2006 sampai dengan petengahan bulan Juni 2006.

III. Analisis dan Pembahasan
III.1 Hasil Wawancara Dengan Sopir Angkot
Wawancara yang telah dilakukan terhadap tiga sopir yang ditemui peneliti masing-masing menyatakan pemahaman mereka pada komunikasi nonverbal calon penumpang adalah sebagai berikut.
a. Sopir Angkot A
Wawancara pertama dilakukan dengan sopir angkot dengan inisial Pak U berumur 46 tahun yang berasal dari tanah B, dimana wawancara berlangsung tidak begitu banyak karena orangnya agak susah untuk diajak bicara. Dengan logatnya yang khas Pak U hanya menjawab sekedarnya dari pertanyaan peneliti. Dalam wawancara, salah satu pernyataan Pak U dalam menanggapi pertanyaan peneliti, yaitu ”Bagaimana cara pak U mengetahui kalau penumpang itu mau naik angkot pak U ataukah tidak?” dan pak U menyatakan; kalo mau nyari calon penumpang lihat saja matanya, karena dari pandangan matanya dapat dipastikan dia (calon penumpang, red) akan naik ke angkot kita atau tidak. Dan biasanya bila ada orang di pinggir jalan yang melihat ke angkot kita, artinya dia mau naik angkot kita. Tapi kadang juga susah ngeliatnya, apalagi di waktu malam he he..! atau kalau tidak kita perhatikan saja mukanya menghadap kemana, karena kalau mukanya menghadap ke angkot kita ya.. berarti dia mau naik angkot”.
Ungkapan seperti itu memang dapat kita lihat langsung, karena setiap orang yang berdiri di pinggir jalan, dengan pandangan mata melihat ke arah angkot dan setelah dihampiri dia memang naik ke angkot yang dipandangnya. Pernyataan pak U memang secara logika dapat kita pahami, yaitu bahwa setiap individu yang mengharapkan sesuatu dari objek yang berada di sekitarnya, tentunya individu tersebut terlebih dahulu akan menunjukkan sikap ketertarikan dengan memandangnya, untuk kemudian melakukan aktifitasnya selanjutnya, yaitu apakah ingin memilikinya atau mengharapkan respon timbal balik.
Pak U juga menjawab, dalam pertanyaan penliti, yaitu ”apakah selain melihat pandangan mata dan muka calon penumpang, pak U dapat membedakan calon penumpang yang mana saja yang akan naik angkot pak U?”. dan jawaban pak U adalah ”kalau kita tak bisa melihat pandangannya, biasanya kita perhatikan badannya, apakah badannya berjalan ke arah kita atau hanya diam saja berdiri, nah kalo sudah begitu, kita bisa tahu dia mau naik angkot kita atau tidak”.
Sikap tubuh memang lebih mungkin untuk dilihat, karena wujudnya lebih besar dan sangat mudah diamati, sehingga pak U menyatakan sikap tubuh calon penumpang merupakan salah satu isyarat apakah calon penumpang akan naik angkot ataukah tidak.

b. Sopir Angkot B
Sopir angkot yang kedua, yaitu dengan inisial Pak A berumur 51 tahun, dia merupakan orang asli Sunda dan telah hampir 15 tahun melakukan pekerjaan menjadi sopir angkot. Sebelumnya dia juga pernah menjadi sopir bus jurusan Bandung – Jakarta selama 5 tahun, tetapi karena merasa sudah tua dan resiko pekerjaannya lebih berat, maka pak A memutuskan untuk menjadi sopir angkot kota saja katanya.
Menanggapi pertanyaan peneliti, ketika ditanya bagaimana caranya mengetahui bahwa ada calon penumpang yang mau naik ke angkotnya ataukah tidak, pak A menjawab dengan santai (pak A memang enak ketika diajak gobrol, red), ”kenapa menanyakan hal-hal sepele seperti itu”, katanya. Walaupun akhirnya dia memberi jawaban yang diinginkan peneliti, yaitu ”caranya gampang aja mah, perhatikan saja gerak tubuhnya, lihat dia bergerak mendekati angkot saya atau tidak, dan kalau dia bergerak mendekati angkot saya mah, berarti dia mau naik angkot saya, begitu pak”.
Menurut pak A juga, terkadang ada calon penumpang yang sudah mendekati angkotnya tapi batal naik angkotnya, karena salah melihat jurusan yang tertulis di kaca depan mobil angkotnya. Ini sering dia alami, karena memang tulisan jurusan angkotnya cukup kecil kalau diperhatikan dengan seksama dari jauh. Dia menyadari hal ini, tapi belum ada niat untuk mengganti dengan tulisan yang lebih besar.
Selain itu, menurut pak A, biasanya dia tahu kalau ada penumpang yang mau naik angkotnya atau tidak adalah dengan gerak tangan calon penumpang yang berdiri di pinggir jalan, yaitu apakah gerak tangannya menunjuk ke arahnya (mobil angkotnya) atau tidak, dan kalau ada petunjuk itu, hampir bisa dipastikan bahwa orang yang berdiri dipinggir jalan tersebut pasti mau naik angkotnya.
Menurut pak A juga, selama puluhan tahun dia melakukan pekerjaan sebagai sopir, dia merasa sudah paham betul akan bahasa tubuh tersebut, dan dia merasa seakan-akan sudah menjadi instink secara tetap dalam dirinya. Sehingga pak A merasa cara menangkap isyarat tubuh calon penumpang tersebut mengalir begitu saja, dan tanpa disadarinya lagi.

c. Sopir Angkot C
Wawancara yang ketiga adalah pada sopir yang berinisial pak Ab dan berumur 49 tahun. Pak Ab merupakan orang asli Jawa Tengah, tepatnya dari daerah Cilacap. Pak Ab sudah menjalani profesinya sebagai sopir angkot selama hampir 16 tahun, dan sebelumnya pak Ab pernah bekerja sebagai karyawan pabrik tekstil di daerah Bandung Selatan, tetapi karena merasa bosan dengan pekerjaan pabrik maka dia memutuskan untuk berhenti waktu itu, dan mencoba keberuntungan dengan menjadi sopir angkot.
Menurut pak Ab, ketika ditanya bagaimana caranya mengetahui calon penumpang yang akan naik angkotnya atau tidak, pak Ab menjawab dengan logat yang terasa masih bercampur dengan logat Jawa Cilacap-nya, yaitu dengan mengatakan ”walah pak, lah kok pengin tau koyok ngono, yo caranya gampang wae, diperhatikan saja dari cara berdirinya, nah itu lihat (seraya menunjuk seseorang yang berjalan dari pinggir jalan), seperti contohnya, pak lihat saja, dia melihat ke kita kan, dan lihat kalau dia mulai melangkah kesini.... nah betul kan dia naik angkot ini (wawancara dilakukan ketika angkot pak Ab sedang menunggu penumpang di daerah Simpang Dago, dan pak Ab sekaligus menunjuk ke arah calon penumpang yang datang menghambirinya, red).
Pak Ab termasuk orang yang cukup interaktif dalam wawancara, karena sering langsung menunjuk ke arah calon penumpang yang akan naik angkotnya. Dan dari pertanyaan peneliti, pak Ab tidak begitu menganggapnya serius, seakan-akan pekerjaannya begitu santai untuk dijalani. Menurutnya lagi, kalau dia sudah tidak perlu terlalu memperhatikan calon penumpang yang mau naik ke angkotnya, ada calon yang menghampiri angkotnya bersyukur dan sewaktu jalanpun, kalau ada yang memberikan isyarat tangan atau berjalan mendekati angkotnya berarti dia anggap sudah mau naik angkotnya. Dan walaupun orang tersebut bukan naik angkotnya tetapi angkot yang disebelahnya.
Pak Ab menyatakan sering juga dirinya mendapat penumpang yang belum paham betul daerah Bandung, yang dapat diketahuinya karena para penumpang tersebut sering menanyakan kepadanya, kemana arah jurusan angkot yang dikemudikannya. Sehingga pak Ab merasa harus ramah kepada para penumpang tersebut, dan menjelaskan angkot yang benar kepada para penumpang tersebut. Pak Ab mengatakan kasian jika para penumpang tersebut sampai tersesat di Bandung.

III.2 Hasil Pengamatan Terhadap Para Calon Penumpang
Pengamatan dilakukan terhadap penumpang yang sedang berdiri dipinggir jalan, yaitu dengan gerak tubuh dan bahasa tubuhnya, seperti dengan cara menunjukkan tangan menUg ke arah angkot ataupun dengan langsung berjalan ke arah angkot yang akan dinaikinya. Para calon penumpang memberikan isyarat yang beragam, seperti misalnya ada calon penumpang yang hanya berdiri saja di pinggir jalan sambil menunjuk ke arah angkot, sampai angkot mendekatinya dan dia baru naik ke dalam angkot.
Pada beberapa orang yang diteliti, terdapat isyarat bahasa tubuh yang khas, yaitu seraya berdiri menghadap ke arah angkot yang berjalan pelan dan memandangnya sampai angkot mendekatinya. Isyarat ini adalah isyarat yang paling umum terlihat, karena secara keseluruhan menunjukkan keinginan untuk naik angkot. Beberapa orang yang dilihat oleh peneliti, ada yang hanya menunjuk ke arah angkot tetapi sambil berbicara dengan teman sebelahnya, karena mungkin teman di sebelahnya hanya mengantar sampai naik angkot, jadi sebagai isyarat saja dengan menunjuk angkot agar angkot berhenti sembari mengucapkan salam perpisahan kepada temannya.
Selain itu, ada beberapa calon penumpang yang diamati oleh peneliti, yang masih membaca petunjuk jurusan yang tercantum di depan kaca mobil angkot, sebelum akhirnya naik angkot yang dituju tersebut. Hal ini mungkin terjadi pada calon penumpang yang belum tahu jurusan mobil angkot, dalam artian mungkin bagi calon penumpang yang belum pernah kemana-mana, dan masih mempelajari arah jurusan angkot yang akan mengantarnya ke tempat tujuan. Ataupun bagi calon penumpang yang baru datang dari daerah luar Bandung, sehingga perlu mempelajari arah jurusan angkot yang ada di Bandung. Biasanya calon penumpang seperti ini, sebelum naik angkot yang akan membawanya menuju ke suatu tempat, berusaha bertanya terlebih dahulu kepada sopir angkot. Calon penumang baru ini biasanya akan menanyakan terlebih dahulu apakah angkot tersebut akan menuju jurusan yang diinginkan oleh calon penumpang tersebut ataukah tidak. Sopir angkotpun dengan bijak akan memberitahukan jurusan angkotnya kepada calon penumpang tersebut. Dan bila tidak sesuai dengan jurusan yang diinginkan oleh penumpang tersebut, si sopirpun biasanya akan memberitahukan angkot yang mana saja yang menuju ke arah yang dimaksud.

III.3 Pembahasan
Dari hasil wawancara dan pengamatan diatas maka peneliti secara umum atau garis besarnya, dapat menggolongkan bahasa isyarat calon penumpang di jalan raya Bandung ke dalam tiga bahasa isyarat umum, yaitu:
1. Bahasa Tubuh Pasif
Pada kategori ini didapatkan bahwa bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh para calon penumpang dengan posisi yang cenderung diam, hanya berdiri saja di pinggir jalan. Posisi tubuh calon penumpang hanya diam dan menghadap ke arah angkot yang lewat di depannya, seraya menunggu angkot yang dimaksud dan kemudian kalau sesuai dengan angkot yang diinginkan maka calon penumpang tersebut akan melangkah naik ke dalam mobil angkot.
Bahasa tubuh yang ditunjukkan calon penumpang dalam kategori ini, cenderung pasif dan hanya menunjukkan sikap diam dan menunggu, karena biasanya calon penumpang dalam kategori ini, berada cukup dekat dengan jalan raya atau di atas trotoar dan sangat mudah dihampiri oleh angkot.
Calon penumpang yang tergolong dalam kategori ini biasanya menunjukkan dengan pandangan mata yang tertuju pada angkot yang lewat. Seperti apa yang dikatakan oleh pak U, dimana cara mengetahui calon penumpang yang mau naik angkotnya atau tidak, yaitu dengan melihat pandangan matanya, apakah melihat kearah angkotnya atau tidak dan walaupun bahasa tubuhnya hanya diam saja, tapi kalau dihampiri maka calon penumpang tersebut akan naik ke angkotnya.

2. Bahasa Tubuh Aktif
Kategori kedua ini yaitu calon penumpang dengan menunjukkan bahasa tubuh secara aktif. Dalam posisi dipinggir jalan akan sangat tampak calon penumpang seperti ini, karena biasanya akan bergerak melangkah langsung menuju ke arah angkot yang sedang menunggu penumpang.
Di tambah lagi dengan pandangan yang tertuju ke arah mobil angkot yang berada di jalan raya atau mobil angkot yang sedang ngetem (menunggu penumpang, red), calon penumpang ini tanpa basa-basi akan langsung masuk ke dalam mobil angkot. Penumpang seperti ini biasanya adalah penumpang angkot yang sudah terbiasa menggunakan sarana angkutan dalam bepergiannya, dan juga biasanya sudah mengerti betul kemana jurusan angkot yang akan dituju.
Bahasa tubuh lainnya yang ditunjukkan oleh penumpang dalam kategori ini, seperti ketika sambil berjalan menghampiri mobil angkot yang dimaksudkannya, seraya menunjuk ke arah mobil angkot dengan tangan atau jari telunjukknya. Penumpang seperti ini biasanya sering ditemukan di terminal-terminal, karena mobil cenderung diam menunggu calon penumpang, dan calon penumpanglah yang aktif menghampirinya.

3. Bahasa Tubuh Agresif
Pada kategori penumpang terakhir ini, yaitu calon penumpang yang agresif. Calon penumpang dalam kategori ini merupakan sebagian kecil saja dari penumpang yang ada, karena biasanya calon penumpang seperti ini adalah calon penumpang yang baru menginjakkan kakinya di daerah Bandung. Dalam artian belum mengerti tentang rute jurusan angkot yang ada di Bandung, sehingga perlu menanyakan lagi kepada sopir angkot walaupun mungkin sudah membaca tulisan jurusan angkot yang tertera di kaca depan mobil angkot.
Cirinya ialah bahwa calon penumpang ini, selain menunjukkan bahasa tubuh seperti yang telah diuraikan diatas ke dalam kategori isyarat pasif dan aktif, ditambah lagi dengan ungkapan verbal dengan menanyakan kepada sopir angkot kemana arah rute angkotnya. Dan jika dirasa benar sesuai dengan arah yang dituju, maka penumpang dalam kategori ini akan naik ke dalam mobil angkot, tetapi ternyata salah jurusan maka penumpang tersebut akan membatalkan untuk naik angkot.
Calon penumpang yang masuk dalam kategori ini biasa ditemukan oleh pak Ab, dan disinilah diperlukan sopir angkot yang ramah dan jujur dalam memberikan informasi seputar angkutan umum di daerah Bandung, sehingga para penumpang yang tergolong seperti ini tidak tersesat nantinya.


IV. Simpulan
Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan yang telah dilakukan oleh peneliti, kemudian dalam pembahasan maka didapatkan bahwa bahasa isyarat dari para calon penumpang bagi para sopir sangatlah penting, dimana sangat menentukan keberhasilannya dalam membawa penumpang sebanyak-banyaknya ke terminal rute jurusan angkotnya.
Dalam memahami bahasa isyarat dari para calon penumpang ini, peneliti mengkategorikannya ke dalam tiga kelompok yaitu bahasa isyarat pasif, bahasa isyarat aktif dan bahasa isyarat agresif. Dari ketiga kategori ini dua yang pertama hanya berdasarkan komunikasi nonverbal dimana hanya menunjukkan isyarat seperti pandangan mata, posisi tubuh dan petunjuk tangan atau menunjukkan jari telunjuk. Sedangkan kategori yang ketiga, disertai dengan ungkapan bahasa verbal, yaitu dengan menanyakan lagi tentang keberan jurusan angkot yang dimaksudkan oleh calon penumpang yang akan melakukan perjalanan.


Daftar Pustaka
Effendy, Onong. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung; PT. Remaja Rosdakarya
Littlejohn, Stephen W. 1996. Theories of Human Communication. California: Wadsworth Publishing Company.
Mulyana, Deddy. 2003. Metode Penelitian Kualitatif . Bandung; PT. Remaja Rosdakarya
Rakhmat, Jalaluddin. 2000. Psikologi Komunikasi. Bandung; PT. Remaja Rosdakarya
[1] Dikutip dari Deddy Mulyana. Metode Penelitian Kualitatif . Hal 105. Remaja Rosdakarya, Bandung 2003.
[2] Deddy Mulyana. Ibid. Hal 70.
[2] Deddy Mulyana, Ibid. Hal. 71
[4] Deddy Mulyana. Ibid. Hal 73.
[5] Deddy Mulyana. Ibid. Hal 73.
[6] Dikutip dari Littlejohn, Theories of Human Communication. Hal. 159-160. Wadsworth Publishing Company, USA 1996
[7] Dikutip dari Onong Effendy. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Hal 31-40. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung 2003
[8] Dikutip dari Jalaluddin Rakhmat. Psikologi Komunikasi. Hal 87. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung 2000
[9] Jalaluddin Rakhmat. Ibid. Hal. 290
NB: Tulisan ini ditulis sewaktu penulis menempuh program pascasarjana di Unpad Bandung (2005-2007)
KOMUNIKASI ANTARPRIBADI
* I Made Widiantara, S.Psi.,M.Si

Komunikasi merupakan konsep dan proses kesamaan makna diantara partisipan serta tindak lanjut atas kesamaan tersebut. Hal ini menggambarkan suatu proses pencapaian tujuan berkomunikasi.
1. Bagaimana peserta dapat sampai pada kesamaan makna?
Kesamaan makna antara peserta komunikasi dapat dicapai dengan memperhatikan terlebih dahulu berbagai aspek, diantaranya adalah; latar belakang budaya, status sosial ekonomi, latar belakang pendidikan, kesamaan pengalaman dalam interaksi sosial, disamping faktor kemampuan psikis seperti intelektualitas dan kemampuan beradaptasi. Ada kecenderungan kalau komunikasi terjadi pada orang-orang yang memiliki latar belakang seperti diatas yang sama maka kesamaan makna akan cepat terwujud. Terlebih lagi dalam komunikasi yang bersifat verbal karena pemahaman bahasa yang sama akan semakin membawa kita pada kesamaan makna yang terbentuk, daripada komunikasi yang terjadi pada orang-orang yang berasal dari budaya yang berbeda. Sebagai contoh, ketika kita melakukan perjalanan ke luar negeri semisal ke India sedangkan kita tidak mengetahui bagaimana berbahasa India, maka ketika kita berkomunikasi dengan penduduk yang kita temui disana dengan menggunakan bahasa Indonesia dan merekapun menggunaka bahasa India, maka kesamaan makna tidak akan terjadi karena kita tidak memahami bahasa mereka dan merekapun tidak memahami bahasa kita. Terkecuali jika kita dan mereka menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi, setidaknya walaupun dilakukan dengan dialek dan gaya berbeda, tetapi ada kemungkinan akan mendapatkan makna yang sama.
Proses kesamaan makna berawal dari adanya persepsi yang sama antara peserta komunikasi. Sedankan kita ketahui bahwa persepsi dipengaruhi oleh faktor-faktor personal dan situasional. Faktor personal yaitu faktor yang ada pada individu itu sendiri, baik yang berupa kemampuan panca indera dalam mennangkap objek, kemampuan syaraf dalam meneruskan simpul objek ke saraf pusat atau otak maupun kemampuan otak dalam hal ini daya pikir kita dalam menilai atau menafsirkan objek tersebut. Kemampuan ini praktis berjalan sesuai dengan pengalaman dan struktur organisme individu. Apakah objek dipersepsikan sebagai objek yang dikenal ataukan belum dikenal sama sekali. Makna yang terkandung dalam bahasa pada komunikasi tentunya adalah termasuk objek yang ditangkap oleh panca indera kita, yang kemudian akan di interpretasikan ke dalam bentuk sebuah makna yang mempunyai arti, dalam hal ini dikatakan sebagai pemaknaan linguistik. Pada setiap orang pemaknaan ini berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan pengalaman yang telah dipelajarinya dalam masa kehidupannya, sehingga akan sangat menentukan caranya beradaptasi dengan lingkungan sosial.
Dalam hal ini konsep yang saya kemukakan cenderung pada teori homofili yaitu istilah yang digunakan untuk menggambarkan tingkat dimana fihak yang berinteraksi memiliki kesamaan dalam beberapa hal, seperti nilai-nilai kepercayaan, pendidikan, status social dan sebagainya.

2. Bagaimana peserta dapat sampai pada hasil akhir komunikasi?
Peserta akan sampai pada hasil akhir komunikasi apabila telah ada umpan balik, interaksi dan koherensi dalam komunikasi. Selanjutnya diperlukan adanya kesepakatan dalam bentuk pemahaman bersama terhadap apa yang telah dikomunikasikan dan apa yang akan menjadi tindak lanjut dari komunikasinya tersebut. Dalam hal ini adanya koherensi antara peserta komunikasi yang berarti adanya pemahaman alur komunikasi, pola berpikir dan juga adanya penyaluran perasaan dalam komunikasi. Antara peserta komunikasi terjadi saling keterpengaruhan dari masing-masing pihak, sehingga terjadi perubahan sikap yang akhirnya akan berpengaruh pada kebiasaan dan perilaku peserta yang telah melakukan komunikasi. Biasanya komunikasi akan berlanjut dengan sebuah tindakan yang konkret, baik yang akan dilakukan oleh kedua belah pihak maupun oleh salah satu pihak. Hasil komunikasi merupakan sebuah komitmen bagi setiap orang terhadap apa yang menjasi topik komunikasinya. Walaupun terjadi pada orang yang baru berkenalan, dan komunikasi terjadi sangat singkat dan ringan. Tetapi dari komunikasi perkenalan tersebut akan memberi pengalaman baru dan akan membekas pada memori seseorang, terlebih lagi jika perkenalan yang terjadi adalah perkenalan yang sangat diinginkan terutama bagi anak muda yang berkenalan dengan seorang cewek cantik misalnya. Maka sekedar mengetahui nama dan nomor telepon yang diberikan secara singkat dalam perkenalan tersebut nantinya akan mengubah dunia mereka jika hubungan berlanjut lewat telepon dan seterusnya (dengan catatan jika masing-masing pihak merasa cocok satu sama lainnya).

3. Bagaimana peserta dapat mengatakan komunikasi efektif?
Komunikasi dapat dikatakan efektif antara peserta komunikasi jika terjadi akibat-akibat dari tingkah laku sesuai dengan yang diharapkan. Kita berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain, kita menciptakan dampak tertentu, merangsang munculnya gagasan-gagasan tertentu, menciptakan kesan-kesan tertentu sehingga menimbulkan reaksi-reaksi perasaan tertentu dalam diri orang lain. Keefektifan komunikasi antarpribadi sangat ditentukan oleh kemampuan peserta untuk mengkomunikasikan secara jelas apa yang ingin disampaikan, menciptakan kesan sesuai yang peserta inginkan atau dengan kata lain mempengaruhi orang lain sesuai dengan yang dikehendaki. Cara kita meningkatkan keefektifan dalam komunikasi antarpribadi adalah dengan cara berlatih mengungkapkan maksud dan keinginan kita, mau menerima umpan balik tentang tingkah laku kita, dan memodifikasi perilaku kita sehingga orang lain mampu mempersepsikannya sebagaimana makna yang kita maksudkan. Dalam artian, bahwa sampai akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perilaku peserta dalam peserta lainnya itu seperti yang dimaksudkan.
Sedangkan menurut Mc. Crosky, Larson, dan Knapp dalam bukunya ”An Introduction to Interpersonal Communication” mengatakan bahwa komunikasi yang efektif dapat dicapai dengan mengusahakan ketepatan (accuracy) yang paling tinggi derajatnya antara komunikator dan komunikan dalam setiap stuasi.
[1]
Komunikasi interpersonal dinyatakan efektif bila pertemuan antara peserta komunikasi terjadi pada situasi menyenangkan. Sebagai contoh, bila kita berkumpul dalam satu kelompok yang memiliki kesamaan dengan kita, maka kita akan merasakan suatu aura menyenangkan dengan rasa gembira, bisa diterima dan terbuka. Sedangkan jika kita berkumpul dengan orang-orang yang kita benci akan membuat kita tegang, resah dan tidak enak. Dan ada kecenderungan kita akan menutup diri dan menghindari komunikasi dan mungkin akan berusaha mengakhiri komunikasi kita.
[2]
Komunikasi secara normatif harus berjalan positif untuk disebut sebagai komunikasi yang berhasil. Selain menimbang feedback, komunikasi juga harus memperhitungkan kemungkinan noise. Santoso Sastropoetro menulis, komunikasi akan berjalan efektif jika tercipta suasana komunikasi yang menguntungkan, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan ditangkap, temanya menggugah perhatian dan minat karena memberi gambaran akan adanya manfaat bagi penerima pesan (Sastropoetro, dalam Berbagai Aspek Ilmu Komunikasi, Remaja Karya, 1989).
Keberhasilan komunikasi sendiri menurut Sastropoetro, dapat diukur dengan melihat jumlah peserta komunikasi yang berhasil dicapai suatu pesan (audience coverage), munculnya pendapat dari penerima pesan terhadap masalah yang disodorkan (audience responce), pesan yang membekas pada diri penerima pesan (communication impact).
Keberhasilan komunikasi juga dapat diukur dari efek komunikasi, yaitu: (1) Efek Individual; kognitif, afektif, konatif. (2) Efek Sosial; difusi informasi, opini publik, akulturasi, perubahan sosial dan ekonomi.
Komunikasi Verbal yang efektif setidaknya harus memenuhi beberapa hal berikut:
1. Jelas dan ringkas. Komunikasi yang efektif harus sederhana, pendek dan langsung. Makin sedikit kata-kata yang digunakan makin kecil kemungkinan terjadinya kerancuan. Kejelasan dapat dicapai dengan berbicara secara lambat dan mengucapkannya dengan jelas. Penggunaan contoh bisa membuat penjelasan lebih mudah untuk dipahami. Ulang bagian yang penting dari pesan yang disampaikan. Penerimaan pesan perlu mengetahui apa, mengapa, bagaimana, kapan, siapa dan dimana. Ringkas, dengan menggunakan kata-kata yang mengekspresikan ide secara sederhana.
2. Perbendaharaan Kata. Penggunaan kata-kata yang sederhana dan dimengerti lawan bicara adalah termasuk dalam komunikasi yang efektif. Dengan mempunyai pembendaharaan kata yang banyak, maka kemungkinan besar kita dapat menyesuaikan kata-kata yang seharusnya kita pergunakan dalam berhadapan dengan golongan tertentu. Seperti contoh, jika kita bekerja sebagai dokter, tentunya penggunaan bahasa yang sederhana yang bisa dimengerti oleh klien akan memudahkan pemahaman klien tentang maksud keterangan penyakit yang ingin kita informasikan.
3. Arti denotatif dan konotatif. Arti denotatif memberikan pengertian yang sama terhadap kata yang digunakan, sedangkan arti konotatif merupakan pikiran, perasaan atau ide yang terdapat dalam suatu kata.
4. Selaan dan kesempatan berbicara. Kecepatan dan tempo bicara yang tepat turut menentukan keberhasilan komunikasi verbal. Selaan yang lama dan pengalihan yang cepat pada pokok pembicaraan lain mungkin akan menimbulkan kesan bahwa kita sedang menyembunyikan sesuatu kepada orang lain.
5. Waktu dan relevansi. Waktu yang tepat sangat penting untuk menangkap pesan. Bila seorang teman sedang membutuhkan pertolongan karena kecelakaan, tidak pada waktunya kita mengajaknya berbicara tentang bagaimana terjadi kecelakaanya, tetapi langsung ditolong dengan membawa ke rumah sakit misalnya.
6. Humor. Dugan (1989) mengatakan bahwa tertawa membantu pengurangi ketegangan dan rasa sakit yang disebabkan oleh stres, dan meningkatkan keberhasilan kita dalam memberikan dukungan emosional terhadap prang lain. Sullivan dan Deane (1988) melaporkan bahwa humor merangsang produksi catecholamines dan hormon yang menimbulkan perasaan sehat, meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit, mengurangi ansietas, memfasilitasi relaksasi pernapasan dan menggunakan humor untuk menutupi rasa takut dan tidak enak atau menutupi ketidak mampuannya untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Tiga ranah/domain dalam sikap adalah kolektifitas total bagi terjadinya fenomena komunikasi internal maupun eksternal. Ranah afektif merupakan domain bagi produk perilaku (concious dan unconscious) verbal maupun nonverbal.
1. Bagaimana dominasi afektif dapat terjadi?
Komponen afektif menyangkut emosional subjektif seorang individu terhadap suatu objek perilaku. Yang secara umum aspek afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu. Walaupun perasaan pribadi seringkali sangat berbeda wujudnya jika dikaitkan dengan perilaku. Dengan contoh, jika kita menganggap bahwa minum-minuman keras akan berdampak memungkinkan terjadinya kekerasan dan pelecehan seksual terhadap orang lain, maka kita yang tidak suka dan ketakutan terhadap perbuatan tersebut akan menjauhi atau menghindari teman-teman yang suka minum-minuman keras. Ungkapan kita pada teman-teman yang suka minum minuman keras mungkin dalam bentuk jijik atau mencemoohnya. Dan takut-takut kalau kita bisa terpengaruh akan perilaku teman kita tersebut. Kecenderungan reaksi emosional kita terhadap suatu objek merupakan komponen afektif yang banyak dipengaruhi oleh kepercayaan dan keyakinan benar salah terhadap suatu objek atau perbuatan.
Kaitan antara afektif atau perasaan terhadap perilaku atau konatif adalah kaitan yang sangat erat. Dimana bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku seseorang. Maksudnya, bagaimana seseorang berperilaku dalam situasi tertentu dan terhadap stimulus tertentu akan banyak ditentukan oleh bagaimana kepercayaan dan perasaannya terhadap stimulus tersebut. Ada kecenderungan berperilaku secara konsisten, selaras dengan kepercayaan dan perasaan ini nantinya akan membentuk sikap seorang individu. Apabila seseorang tidak suka, percaya dan merasa bahwa minuman keras sangat merugikan tubuh karena mengandung zat bahaya bagi tubuh, maka orang tersebut cenderung tidak akan meminum minuman keras, terkecuali jika dijelaskan bahwa dengan meminum minuman keras hanya untuk menghangatkan badan pada musim dingin, mungkin orang tersebut akan mau meminumnya.
Pada tingkat yang lebih ekstrim dapat saja karena ketidaksukaan kita terhadap minuman keras, yang kita anggap merugikan dan berbahaya terhadap orang lain, sehingga kita cenderung merasa khawatir dan cemas kalau sekedar lewat atau mengetahui teman kita ada yang sering meminum minuman keras. Dan pada tahap selanjutnya bisa saja kita akan menjadi benci dan menolak keberadaan toko-toko atau orang yang menjual minuman keras, kerena dalam pikiran kita telah tertanam rasa tidak suka dan dampak negatif akibat minuman keras tersebut. Bentuk penolakan dan ketidaksukaan kita pada pedagang atau penjual minuman keras dapat berupa menggerebekan dan membakaran tempat berjualannya. Dan atau menjauhi serta memusihi teman kita yang suka minum minuman keras.

2. Bagaimana terjadinya produk dimaksud?
Produk dari dominasi afektif pada perilaku yaitu berupa sikap kita yang tidak suka, cemas dan merasa khawatir terhadap suatu objek tertentu sebagai sesuatu yang harus dihindari dan atau didekati jika kita merasa suka dan senang pada suatu objek tertentu. Komunikasi verbal yang terucap lebih cenderung pada kendali pikiran sadar kita, karena tentunya bahasa verbal akan kita kendalikan dengan penggunaan bahasa yang dapat dipahami orang lain. Ungkapan bahasa nonverbal biasanya akan menunjukkan aspek afektif kita, karena pada bahasa nonverbal terjadi dalam keadaan tanpa sadar. Menurut Johnson (19810 dalam bukunya A. Supratiknya, ”Komunikasi Antarpribadi”, menyatakan bahwa perilaku nonverbal memiliki beberapa ciri sebagai berikut; (1) merupakan kebiasaan sehingga bersifat otomatis dan jarang kita sadari, (2) berfungsi mengungkapkan perasaan-perasaan kita yang sebenarnya, kendati dengan kata-kata kita berusaha menyembunyikannya, (3) komunikasi nonverbal merupakan sarana utama untuk mengungkapkan emosi, (4) memiliki makna yang berlainan pada berbagai lingkungan budaya yang berebda, dan (5) memiliki makna yang berbeda dari orang ke orang atau pada orang yang sama namun berlainan tempat.
[3]
Jadi dalam pembahasan produk dimaksud bahwa perasaan, emosional atau aspek afektif kita cenderung mempengaruhi prilaku yang kita tunjukkan kepada orang lain dalam bentuk sikap. Yaitu apakah dalam bentuk rasa tidak suka, senang, khawatir, benci ataukah marah yang biasanya kita tunjukkan dalam bentuk komunikasi nonverbal selain sedikit dalam ungkapan bahasa verbal. Bahasa nonverbal hanya dapat dicermati dengan ketelitian karena sifatnya terselubung dari sikap individu. Dan biasanya terjadinya berlangsung tanpa disadari oleh peserta komunikasi, dan hanya dapat dirasakan oleh lawan komunikasi kita.

3. Bagaimana terjadinya fenomena conscious dan unconscious?
Dalam bukunya The Art of Re-engineering Your Mind for Success, Waidi (2006:40) menyatakan ada segitiga pikiran yang memperlihatkan bahwa IQ (Intelektual Quotient) sebagai pikiran sadar yaitu yang berada pada posisi puncak dari segitiga dan porsinya kurang lebih 12 persen. Sedangkan pikiran bawah sadar terdiri dari EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient) yang menempati 88 persen dari pikiran kita. Menurutnya terdapat file-file kecil di dalam pikiran sadar dan bawah sadar kita, yang terdiri dari file positif dan file negatif. Jadi semakin banyak file positif yang ada di pikiran sadar maupun bawah sadar kita maka semakin baik dan semakin positif konsep diri yang ada pada diri kita, begitupun sebaliknya ketika terdapat banyak file negatif makan konsep diri kita akan semakin negatif.
Di sisi lain fenomena conscius dan unconscius mengetengahkan bahwa adanya sikap yang dilakukan dengan sadar dan dengan tidak sadar oleh seorang individu. Sebagai contoh ketika kita berkomunikasi dengan orang lain secara verbal atau penggunaan bahasa oral, maka kita akan berusaha memikirkan terlebih dahulu apa yang akan kita bicarakan dan dengan demikian kita melakukannya dengan kesadaran. Kecenderungan perilaku sadar ini kita lakukan dalam menjaga nilai kualitas kita dalam berkomunikasi. Setiap bahasa yang kita pergunakan memiliki makna dan arti yang tentunya akan bermakna sama juga bagi orang lain (ada persamaan persepsi tentang makna). Sedangkan bahasa nonverbal yang kita tunjukkan baik dalam bentuk bahasa tubuh maupun yang mengiringi tatanan suara verbal kita cenderung keluar dari pikiran bawah sadar. Dengan contoh, adanya mimik muka kita yang memerah ketika kita salah mengeja nama orang yang kita ajak berbicara. Intonasi suara kita akan sedikit bergetar dan meninggi disaat kita berusaha menutupi sesuatu hal yang menurut kita akan membuat harga diri kita jatuh kalau dikatakan (berusaha berbohong). Ada kecenderungan pikiran bawah sadar yang mendominasi pada bahasa nonverbal kita, dan ini terjadi tanpa kita sadari karena akan nampak dari sudut pandang orang lain, sedangkan kita sendiri tidak akan merasakannya.

Sikap adalah dasar value dari tindakan komunikasi positif maupun negatif.
1. Apa yang dimaksud dengan sikap positf, ciri/varian serta indikatornya?
Sebagai salah satu kunci keberhasilan hidup adalah konsep diri positip. Konsep diri memainkan peran yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang, karena konsep diri dapat disamakan dengan suatu sistem operasi yang menjalankan suatu komponen, misalnya seperti komputer. Terlepas dari seberapa baiknya perangkat keras sebuah komputer dan program yang di-install pada komputer, apabila sistem operasinya tidak baik dan banyak kesalahan maka komputer tidak dapat bekerja dengan maksimal. Dan hal ini juga berlaku bagi manusia.
Konsep diri merupakan sistem operasi yang menjalankan mental, yang mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang. Konsep diri ini setelah tertanam akan masuk dalam pikiran bawah sadar dan mempunyai bobot pengaruh sebesar 88% terhadap level kesadaran seseorang pada suatu saat. Semakin baik konsep diri maka akan semakin mudah seseorang untuk berhasil. Dan begitu juga sebaliknya. Konsep diri yang positif akhirnya berwujud berupa sikap diri positif yang dapat terlihat oleh orang lain, sebagai lingkungan sosial kita dimana tempat kita bergaul dan berinteraksi. Sikap diri positif memenuhi beberapa hal penting, seperti; (1) adanya keyakinan akan kemampuan untuk mengatasi masalah; (2) merasa setara dengan orang lain; (3) menerima pujian tanpa rasa malu; (4) menyadari, bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat; (5) mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.
[4]
Kita dapat melihat konsep diri seseorang dari sikap mereka. Sikap diri yang jelek akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri, tidak berani mencoba hal-hal baru, tidak berani mencoba hal yang menantang, takut gagal, takut sukses, merasa diri bodoh, rendah diri, merasa diri tidak berharga, merasa tidak layak untuk sukses, pesimis, dan masih banyak perilaku inferior lainnya.
Maka sebagai indikator dari sikap positif adalah dengan menunjukkan sikap yang selalu optimis, berani mencoba hal-hal baru, berani sukses, berani gagal, percaya diri, antusias, merasa diri berharga, berani menetapkan tujuan hidup, bersikap dan berpikir positip, dan dapat menjadi seorang pemimpin yang handal.

2. Bagaimana terjadinya sikap positif? Berikan contoh dalam konteks komunikasi penjualan personal!
Terjadinya sikap positif seperti yang telah dijelaskan pada poin 1 diatas, dimana berawal dari pikiran yang positif tentang diri sendiri dan orang lain. Selalu menanamkan konsep diri yang positif, apakah dengan mulai menyukai tubuh kita, penampilan, ataukah dengan cara kita berkomunikasi kepada orang lain. Karena sebagai penguat dalam pola pikir kita, dengan selalu memikirkan hal-hal yang positif tentang diri dikatakan juga dapat menjadi sebuah mantra sakti yang mampu memberi nilai positif terhadap sikap yang kita tunjukkan kepada orang lain.
Jika dikaitkan dengan konteks komunikasi interpersonal dalam penjualan, maka pengertian konteks hubungan antar pribadi adalah berupa transaksi dagang, dimana menurut Thibault dan Kelley menyatakan “Setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran biaya“, dia juga menyatakan dengan 4 (empat) konsep pokok, yaitu; (1) Ganjaran, dengan akibat nilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan. (2) Biaya, sebagai akibat dari nilai negatif yang terjadi dalam suatu hubungan. (3) Hasil atau Laba, dengan adanya ganjaran dikuranginya biaya. (4) Tingkat perbandingan, yaitu standar yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang.
Sehingga dalam pengertian ini, setiap individu akan selalu berusaha untuk melakukan sikap positif terhadap orang lain untuk mencapai keuntungan yang diinginkannya. Hubungan akan dipertahankan bila hubungan tersebut terjadi dalam suasana menguntungkan, dan setidaknya berlaku syarat saling menguntungkan kedua belah pihak. Lebih jauh lagi peranan motivasi dan kebutuhan sangat berpengaruh dalam menentukan hubungan ini, dimana setiap individu akan berusaha melakukan personal selling terhadap perilaku orang lain dengan maksud bahwa interaksinya akan membawa dampak positif bagi kualitas dan keberadaan dirinya. Seperti contoh, dalam melakukan kerjasama antar perusahaan dimana kita sebagai manajer perusahaan yang memiliki wewenang dalam menjaga jalinan kerjasama dengan perusahaan lain, maka kita akan berusaha untuk menunjukkan sikap positif yang berusaha menjaga agar hubungan perusahaan kita dengan perusahaan lain tersebut tetap aman dan berjalan lancar, serta menguntungkan. Sikap positif yang kita tunjukkan ini, disamping akan membawa dampak positif terhadap posisi kita di perusahaan tempat kita bekerja juga akan berdampak positif terhadap perusahaan kita. Sehingga pada akhirnya akan menambah keuntungan dalam karier, apakah dalam bentuk promosi jabatan yng lebih tinggi ataukan dalam bentuk insentif gaji.
Ini memberikan gambaran pada kita bahwa semakin besar keuntungan yang akan kita dapatkan, maka ada kecenderungan akan semakin besar pula hubungan tersebut akan kita lanjutkan. Begitu juga sebaliknya, jika kita merasa bahwa hubungan yang kita lakukan akan merugikan kita maka kita akan mulai mengevaluasi apakah kita akan bertahan ataukah memutuskan hubungan?.

[1] Dikutip dari Onong U.F. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Hal 64. Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, Bandung 2003.
[2] Dikutip dari Jalaluddin Rakhmat. Psikologi Komunikasi. Hal 118. Penerbit PT. Remaja Rosdakarya Bandung: 2000
[3] Dikutip dari A. Supratiknya. Komunikasi Antarpribadi. Hal 62-63. Penerbit Kanisius Yogyakarta: 1995
[4] Dikutip dari Jalaluddin Rakhmat. Psikologi Komunikasi. Hal 105. Penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung: 2000
NB: Tulisan ini ditulis sewaktu menempuh program pascasarjana di Unpad Bandung (2005-2007)
LABELLING THEORY
* I Made Widiantara, S.Psi.,M.Si

Latar belakang Labelling Theory
Sebagai mahkluk sosial tentunya manusia tidak akan terlepas dari keberadaan manusia lainya. Interaksi yang terjadi antara manusia sangat kompleks dan berkelanjutan. Dengan interaksi inilah, setiap manusia selalu tergantung kepada orang lain baik dalam hal kebutuhan hidup maupun kebutuhan sebagai identitas pribadinya sebagai manusia. Karena tanpa adanya manusia lainnya maka tidak ada sebuatan kita sebagai manusia. Termasukpun yang memberikan manusia sebuah nama atau penjulukan, seperti nama identitas di KTP, sebutan sopan dalam kebiasaan perilaku tertentu, tingkat kemampuan belajar dalam sebutan pintar atau bodoh ataupun sebutan untuk suatu perilaku yang menyimpang.
Lahirnya Teori Penjulukan atau yang lebih dikenal dalam bahasa keren Labelling Theory, diinspirasi oleh perspektif Interaksi Simbolik dari Herbert Mead dan telah berkembang dengan kajian-kajian dan riset-risetnya dalam bidang kriminolog, Mental Health dan juga dalam pendidikan. Teori penjulukan dari studi tentang penyimpangan di akhir tahun 1950 dan awal 1960 yang merupakan penolakan terhadap Teori Konsensus atau Fungsionalisme Struktural.
Pada awalnya, Teori Struktural Deviasi atau penyimpangan dipahami sebagai perilaku yang merupakan karakter yang berlawanan dengan norma-norma sosial. Deviasi adalah bentuk dari perilaku. Namun Labelling Theory menolak pendekatan itu, deviasi hanya merupakan nama yang diberikan atau penandaan (nominalism). Tegasnya, Labelling Theory rejected this approach and claimed that deviance is not away of behaving, but is a name put on something: a label.... Deviance is not something inherent in the behavior, but is an outcome of how individuals or their behavior are labelled. (Socioglossary, September 26th, 1997).

Howard S. Becker, salah satu ahli teori interaksi yang lebih awal, mengklaim bahwa, “kelompok sosial menciptakan penyimpangan (deviance) dengan pembuatan aturan mendasar dengan menerapkan aturan itu kepada orang-orang tertentu dan memberikan label mereka sebagai orang luar”. Menurut Becker, setelah individu berlabel menyimpang mereka akan terus menyimpang dan menjadi sulit untuk melepaskan label tersebut karena orang lain melihatnya dengan status individu menunjuk orang luar (Outsiders): “Study Sociology of Deviance” 1963. ini menunjukkan, bahwa ketika kita mempelajari orang penyimpang, seseorang tidak harus menerima penyimpangan mereka sebagaimana adanya karena seseorang menganggap orang-orang tersebut benar telah melakukan penyimpangan atau melanggar beberapa aturan, karena proses teori penjulukan tidak sempurna. Penjulukan penyimpang tidak perlu berarti bahwa individu telah melakukan penyimpangan di masa lalu.
Becker juga menyatakan bahwa Labelling Theory, memusatkan kajian terhadap reaksi orang lain (di luar dirinya) dan pengaruh yang ditimbulkan sebagai akibat untuk kemudian menghasilkan penyimpangan. Ketika seseorang mengetahui dirinya diperlakukan secara berbeda, individu tersebut terpisah dari lingkungan yang memberikan label padanya, seperti seoarang pencuri, sampah masyarakat, pelacur, berpenyakit, pemabuk dan lain-lain.
Teori Penjulukan berupaya menekankan pada pentingnya melihat penyimpangan dari sudut pandang individu yang deviant. Seseorang yang dikatakan menyimpang dan dia mendapatkan perilaku tersebut, maka sedikit banyak akan mengalami stigma, dan jika dilakukan terus menerus, dirinya akan menerima atau terbiasa dengan sebutan tersebut.
Becker menguatkan bahwa penyimpangan bukanlah suatu property yang melekat pada bentuk tingkah laku tertentu, tetapi property yang digunakan oleh individu. Penyimpangan menurut teori penjulukan oleh Becker, diperlukan pada stabilitas masyarakat dibandingkan tanggung jawab pada kerusakannya. Karena individu yang menyimpang bertindak sebagai parameter perbedaan antara baik dan buruk, benar dan salah.

Asumsi (Essensi) Labelling Theory
Teori labelling pada prinsipnya menyatakan dua hal. Pertama, orang berperilaku normal atau tidak normal, menyimpang atau tidak menyimpang, tergantung pada bagaimana orang-orang lain (orang tua, keluarga, dan masyarakat) menilainya. Penilaian itu ditentukan oleh kategorisasi yang sudah melekat pada pemikiran orang lain tersebut. Segala sesuatu yang dianggap tidak termasuk ke dalam kategori-kategori yang sudah dianggap baku oleh masyarakat (dinamakan: Residual) otomatis akan dianggap menyimpang. Karena itulah orang biasa dianggap sakit jiwa hanya karena berbaju atau bertindak aneh pada suatu tempat atau situasi tertentu. Kedua, penilaian itu berubah dari waktu ke waktu, sehingga orang yang hari ini dinyatakan sakit bisa dinyatakan sehat (dengan gejala yang sama) beberapa tahun kemudian, atau sebaliknya.
Yang menjadi permasalahan bahwa yang terkena pengaruh labelling ini bukan hanya awam (khususnya pasien atau subjek), melainkan juga ilmuwan (termasuk para dokter dan psikolog sendiri). Sebagai contoh, pada anggota kongres AS yang terkemuka, Barry Goldwater, misalnya pernah didiagnosis sebagai “schizophrenia paranoid”; presiden AS dan pemenang Nobel Woodrow Wilson, pernah didiagnosis sebagai “sangat mirip psikosis”; dan semua politisi Uni Sovyet yang menjalani pemeriksaan psikiatrik didiagnosis sebagai “kepribadian psikopat”, “cenderung paranoid” atau “schizophrenia” dengan simptom-simptom: “idea reformis, perilaku bizarre, emosi datar, emosi tak adequat, tidak kritis pada situasi, mau benar sendiri, bereaksi tidak sesuai dengan situasi dan kecenderungan untuk memoralisasi segala sesuatu” (McCaghy, Capron dan Jamieson, 2002:356).
Dua proporsi dalam Teori Penjulukan, yaitu pertama, perilaku menyimpang bukan merupakan perlawanan terhadap norma, tetapi berbagai perilaku yang berhasil didefinisikan atau dijuluki menyimpang. Deviasi atau penyimpangan tidak inheren dalam tindakan itu sendiri tetapi merupakan respon terhadap orang lain dalam bertindak, penyimpangan dikatakan ada dalam “mata yang melihat”. Kedua, penjulukan itu sendiri menghasilkan atau memperkuat penyimpangan. Respon orang-orang yang menyimpang terhadap reaksi sosial menghasilkan penyimpangan sekunder yang mana mereka mendapatkan citra diri atau definisi diri (self-image or self definition) sebagai seseorang yang secara permanen “terkunci” dengan peran orang yang menyimpang. Penyimpangan merupakan outcome atau akibat dari kesalahan sosial dan penggunaan kontrol sosial.
Dua konsep lain yang menarik dalam Teori Penjulukan, yaitu pertama, Master Status, dalam Teori Penjulukan label dominan seringkali lebih mengarah pada suatu keadaan yang disebut sebagai Master Status.
Once someone has been successfully labelled as criminal or deviant, the label attached may become the dominant label or 'master status' which is seen as more important than all the other aspects of the person. He or she becomes a 'hooligan' or 'thief' rather than a father, mother or friend. Each label carries with it prejudices and images and this may lead to others interpreting the behavior of the labelled person in a particular way.
(
http://www.le.ac.uk/education/resources/SocSci/labelling.html: 17 April 2006).
Master Status adalah label yang “dicantelkan” yang biasanya terlihat sebagai karakteristik yang lebih atau paling penting atau menonjol dari pada aspek lainnya pada orang yang bersangkutan (Becker, 17 April 2006). Bagi sebagian orang julukan penyimpangan telah diterapkan atau yang biasa dikenal dengan konsep diri, mereka menerima dirinya sebagai menyimpang, dan akan membuat keterbatasan bagi perilaku para penyimpang selanjutnya dimana mereka bertindak.
Bagi para penyimpang sebutan tersebut menjadi menyulitkan, mereka akan mulai bertindak selaras dengan sebutan tersebut. Dampaknya mungkin keluarga, teman, atau lingkungannya tidak mau bergabung dengan yang bersangkutan. Dengan perkataan lain bahwa orang emngalami stigma sebagai penyimpang dengan berbagai konsekwensinya, dan akan dikeluarkan dari kontak hubungan-hubungan sosial yang ada. Kondisi seperti ini akan sangat menyulitkan yang bersangkutan untuk menata identitasnya dari seseorang yang bukan menyimpang. Sehingga berakibat bahwa dia akan melihat dirinya secara mendasar sebagaimana julukan yang dia dapatkan.
Kedua, Deviant Career, konsep diri deviant career mengacu pada sebuah tahapan ketika si pelanggar aturan memasuki atau telah menjadi devian secara penuh. Kai T. Erikson dalam Becker (17 April 2006) menyatakan bahwa penyimpangan bukanlah suatu bentuk perilaku yang inheren, tetapi merupakan pemberian dari anggota lingkungan yang mengetahuinya dan menyaksikan tindakan mereka secara langsung maupun tidak langsung.
Sehingga dapat disimpulkan dari teori penjulukan atau labelling theory dari Becker menempatkan pihak yang dominan sering mendefinisikan realitas kehidupan berdasarkan perspektif mereka dan membiarkan bahkan mengharapkan pihak yang lemah mendefinisikan realitas tersebut dengan cara yang sama.

Aplikasi Labelling Theory
Penjulukan sesungguhnya merupakan suatu persoalan yang cukup dilematik. Ketika seseorang atau kelompok menjuluki orang lain atau pihak lain, yang katakanlah dengan sebutan bonek, ninja, kaum kafir ataupun yang lebih ekstrem sebagai golongan teroris, maka julukan tersebut akan tersosialisasi dengan intens dan pandangan masyarakat terhadap pihak yang dijuluki akan menjadi sangat negatif, tidak peduli apakah penjulukan tersebut memiliki landasan argumen yang kuat atau tidak terhadap keselarasan norma kemanusiaan, bersifat benar atau hanya mengada-ada belaka dalam tirani golongan tertentu. Sehinga, pada keadaan tertentu, orang yang terkena julukan tersebut kemudian tidak akan mampu membendung arus negatif yang menerpa mereka, dari berbagai cacian, kecaman, hujatan, dan sanksipun seolah-olah merupakan suatu harga yang harus mereka bayar.
Teori penjulukan (Labelling Theory) menyatakan bahwa proses penjulukan dapat sedemikian hebat sehingga korban-korban misinterpretasi ini tidak dapat menahan pengaruhnya. Berondongan julukan yang bertentangan dengan pandangan ataupun keyakinan mereka sendiri, citra diri asli mereka sirna, digantikan citra diri baru yang diberikan orang lain. Dampak penjulukan itu jauh lebih hebat dan tidak berhubungan dengan kebenaran penjulukan tersebut, terutama bagi mereka yang dalam posisi lemah, minoritas dan rakyat jelata misalnya.
Persoalannya yang adalah bagaimana sekiranya orang atau pihak yang mendapat julukan tersebut keberatan dan sama sekali tidak menerima penjulukan tersebut, yang katakanlah dipandang sebagai sesuatu yang “ngawur” dan sekehendak sendiri??. Disinilah terjadinya dilematik dan sekaligus problematik dari penjulukan tersebut. Ketika seseorang atau pihak tertentu yang dijuluki tersebut membantah dan memprotes keras penjulukan yang dimaksud, maka protes dan bantahannya dipandang mengkonfirmasikan julukan tersebut. Sebaliknya, jika pihak yang dijuluki berdiam diri atau bersikap pasif dan pasrah saja, maka itu sama halnya dengan membenarkan apa yang dijulukkannya. Jadi, ya serba salah gitu!!? Dan karena juga, sekali penjulukan telah menimpa seseorang, maka sulit sekali bagi yang bersangkutan untuk melepaskan diri dari julukan tersebut.
Sebagai contoh aplikasi, tentang bonek atau kalo dipanjangkan berarti bondo nekad merupakan julukan negatif yang diberikan kepada pendukung atau suporter sepak bola pada periode pertandingan semi final dan final sepak bola liga Indonesia pada sekitar tahun 1997-an, yang berasal dari kesebelasan Jawa Timur. Bonek dianggap orang liar yang mesti dijauhi, ditangkap dan kalo perlu digebuki oleh pihak berwajib. Bagi orang awam yang mendengar kata-kata bonek pasti mengidentikkan dengan segerombolan anak muda yang berpenampilan urakan, kasar, suka merampas barang orang lain, makan minum tanpa membayar, pembuat kerusuhan, suka berkelahi, dan merusak fasilitas umum. Tapi, menurut salah seorang suporter Ilham, pendukung Persebaya asal Gresik, “sebutan bonek memang sangat merendahkan kami, sebab tidak semuanya adalah orang yang bermodal nekad saja. Kami punya uang, bahkan untuk beli karcis sekalipun”, (Republika, 29 Juli 1997).
Penjulukan yang lebih ngetrend di tahun 2000-an ini yaitu teroris. Penjulukan ini ditujukan bagi sekelompok orang yang suka melakukan teror dan kekhawatiran bagi orang lain. Misalnya kalau kita mencermati peristiwa pemboman yang beruntun di beberapa daerah Indonesia sejak tahun 2000, seperti: bom Bali, bom Hotel Mariot dan bom mobil yang meledak di depan kedubes Australia. Beberapa laporan intelejen menunjukkan bahwa ada keterkaitan yang sangat kuat bahwa peristiwa tersebut berhubungan dengan Islam Garis Keras, yang terhimpun dalam Jamaah Islamiyah. Dengan mengatasnamakan jihad mereka melakukan beberapa keresahan dengan melakukan aksi pemboman, yang nota bene dilakukan secara terorganisir. Penyelidikan pihak berwajib secara nyata telah menemukan adanya kaitan antara peristiwa tersebut berkaitan dengan jaringan yang bersifat internasional. Seperti tertangkapnya Amrozy cs, yang secara lugu dan berani mengakui kegiatan mereka dengan alasan Jihad, yang mungkin bagi sebagian besar umat Muslim menyatakan bahwa pemaknaan jihad yang mereka lakukan adalah keliru. Dan lucunya, penjulukan teroris yang dikenakan kepada mereka malah dibalas dengan ungkapan bahwa apa yang mereka lakukan adalah dalam rangka melawan teroris dunia. Maka jadilah teroris melawan teroris (pen).
Dari berbagai peristiwa yang terjadi tersebut muncullah berbagai sebutan dan interpretasi atas realitas yang seolah-olah menunjukan keadaan sebenarnya atas keterlibatan kelompok-kelompok Islam di Indonesia dengan jaringan terorisme internasional. Realitas itu dikonstruksi oleh berbagai pihak untuk dikenakan kepada pihak tertentu, seperti Islam Garis Keras, Islam Radikal, Islam Jalanan, Islam Mapan, Komando Jihad, Kaum Kafir, Veteran Afganistan dan lainnya. Setidaknya dengan penjulukan seperti ini semakin membuat resah masyarakat, setidaknya cukup membuat masyarakat saling waspada terhadap satu sama lainnya, dan malah semakin membuat masyarakat saling curiga terhadap orang lain, jangan-jangan tetangganya, temannya atau saudaranya termasuk yang dijuluki tersebut dan bisa mengancam ketenteraman masyarakat.
Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai orang tua yang menyebut anaknya. "Nakal". Tidak jarang sebutan itu dilontarkan demikian saja, tanpa alasan yang jelas (kadang-kadang hanya untuk menunjukkan bahwa orang tua tidak memanjakan anaknya). Akibatnya adalah bahwa anak yang awalnya tidak bermasalah bisa sungguh-sungguh menjadi masalah karena selalu diberi stigma nakal. (dalam McCaghy, Capron & Jamieson, 2002: 348-349).
Sehingga ada peribahasa yang bijaksana, mengatakan “jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika ia dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri. Begitupun dengan anak yang dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri, dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri, dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Serta jika ia dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan”. (Rosani : 17 April 2006).

Kritik terhadap Labelling Theory
Kemampuan untuk menentang pemberian label terasa sangat penting daripada membahas permasalahan kriminalitas (penyimpangan di masyarakat). Masyarakat berusaha untuk tidak memberikan lebel secara gegabah kepada orang lain atau suatu kelompok tertentu, karena berdampak sangat panjang pada kehidupan seseorang atau kelompok yang di berikan label tersebut. Peranan budaya sangat penting karena sebagai tempat yang memiliki banyak norma-norma sosial yang berlaku. Terdapat beberapa kritikan terhadap teori labelling ini (Gove W (ed), 17 April 2006), seperti:
- Persoalan teoritikal bukan sangat eksplisit, karena Labelling Theory mengikuti teori interaksi simbolik dalam menerapkan studi deskripitif (memberikan informasi yang menjelaskan tentang budaya minoritas).
- Pemberian label menjadi variabel mandiri atau dependent, dengan kata lain, adalah suatu penjelasan dalam keejahatan atau menjelaskan kebutuhan golongan tertentu. Terkadang, nampak sebagai suatu variabel dependent, yaitu hasil hubungan kekuasaan dengan tingkatan toleransi yang berbeda, dan jarak sosial antara pemberi label dan penerima label. Perbedaan status nampak seperti sifat variabel yang menjelaskan paling utama, dan Gove mengusulkan pengujian ini dengan membandingkan ukuran sosial kecil dengan tingkat penyimpangan yang nyata, karena menjadi kelompok kecil lebih mungkin untuk diberikan label menyimpang.
- Mekanisme pemberian label perlu untuk diterangkan secara lebih detail. Khususnya, dalam suatu dugaan dari penyimpangan yang terkandung. Jika tindakan dari pelanggar atau penyimpang dapat dipisahkan secara analitis dari pemberi label yang pemberiannya sangat tergantung kepada penerima label, apakah bisa diterima ataukan tidak. Seperti dikatakan Gove yang mencurigai bahwa penyimpangan perilaku atau aktifitas sendiri merupakan suatu faktor aktif sedangkan dalam proses pemberiannya sangat relatif bagi orang lain. Karena sebagai contoh bagi penerima label, jika menentang semakin keras maka proses pemberi label akan semakin menekankan label tersebut, dan penyimpangan akan semakin kuat, karena ada faktor untuk memenuhi label tersebut.

DAFTAR RUJUKAN

Anonim, Labelling-Theory, Diakses tanggal 17 April 2006
www.goldenesays.com/free_essays/4/sociology/labelling-theory.shtml/
Becker, Howard., Overview of Labelling Theories. Diakses tanggal 17 April 2006. www.hewett.norfolk.sch.uk/curric/soc/crime/labelling/
Glossary of Sociological Terms, Labelling theory. Diakses tanggal 17 April 2006.
www.soci.canterbury.ac.nz/resource/glossary/index.shtml/
Gove W (ed)., BRIEF NOTES ON: Gove W (ed) The Labelling of Deviane. Diakses tanggal 17 April 2006.
http://www.arasite.org/gove.html
Mulyana, Deddy., Komunikasi Populer, Kajian Komunikasi dan Budaya Kontemporer. Pustaka Bany Quraisy, Bandung; 2005
Rosani T., Hak Anak. Diakses tanggal 17 April 2006.
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=239232&kat_id=3
Sarlito W. S. Pengaruh Opini Publik terhadap Teori, Diagnosis dan Terapi Gangguan Jiwa. Diakses tanggal 17 April 2006.
http://www.psikologiums.net/modules.php?name= News&file=print&sid=36
University of Leicester. Labelling Theory. Diakses tanggal 17 April 2006. http://www.le.ac.uk/education/resources/SocSci/labelling.htm
NB: Tulisan ini ditulis sewaktu penulis menempuh program pascasarjana di Unpad Bandung (2005-2007)

Kamis, 12 November 2009

Perkembangan Filsafat Menjadi Beberapa Ilmu
*I Made Widiantara, S.Psi.,M.Si


BAB I
SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI
Ditinjau secara historis dapat dikemukakan bahwa ilmu yang tertua adalah ilmu Filsafat. Ilmu-ilmu yang lain tergabung dalam filsafat, dan filsafat merupakan satu-satunya ilmu pada waktu itu. Oleh karena itu, ilmu-ilmu yang tergabung dalam filsafat akan dipengaruhi oleh sifat-sifat dari filsafat, demikian pula halnya dengan psikologi. Lama-kelamaan, disadari bahwa filsafat sebagai satu-satunya ilmu kurang dapat memenuhi kebutuhan manusia. Disadari bahwa hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan tidak cukup lagi hanya diterangkan dengan filsafat.

Pada saat psikologi masih tergabung dengan filsafat, dasar pemikirannya sejalan dengan pemikiran perkembangan ilmu pengetahuan di jaman sebelum Renaissance, yaitu jaman Yunani Kuno dan zaman pertengahan. Lama-kelamaan, disadari bahwa filsafat sebagai satu-satunya ilmu kurang dapat memenuhi kebutuhan manusia. Sejak awal pertumbuhan hingga pertengahan abad ke-19, psikologi lebih banyak dikembangkan oleh para pemikir dan ahli filsafat, yang kurang melandasi pengamatannya pada fakta kongkrit. Mereka lebih mempercayai pemikiran filsafat dan pertimbangan-pertimbangan abstrak serta spekulatif. Teori-teori yang mereka ciptakan lebih banyak didasarkan pada pengalaman pribadi dan pengertian sepintas lalu. Oleh karena itu, dapat dimengerti bahwa psikologi pada waktu itu kurang dapat dipercaya kebenarannya.

Dalam perkembangan psikologi selanjutnya, dirasakan perlunya penggunaan metode lain, untuk menjamin obyektifitasnya sebagai ilmu, yaitu menggunakan metode “empiris”. Metode empiris menyandarkan diri pada: pengalaman, pengamatan, dan eksperimen/percobaan (empiris, empiria, yang berarti pengalaman dan pengamatan) (Ahmadi, 1998:52), dimana hal ini sejalan dengan penemuan ilmu pengetahuan modern yang sudah mulai dirintis pada zaman Renaissance. Zaman Renaissance (14-17M) menanamkan pengaruh yang kuat bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern yang menunjukkan beberapa hal, seperti: pengamatan (abservasi), penyingkiran segala hal yang tidak termasuk dalam peristiwa yang diamati, idealisasi, penyusunan teori secara spekulatif atas peristiwa tersebut, peramalan, pengukuran, dan percobaan (eksperimen) untuk menguji teori yang didasarkan pada ramalan matematik (Mustansyir, 2001: 133).

Hal tersebut adalah jasa dari Wilhelm Wundt yang mendirikan laboratorium psikologi yang pertama-tama pada tahun 1879 untuk menyelidiki peristiwa-peristiwa kejiwaan secara eksperimental. Dengan perkembangan ini, maka berubahlah psikologi yang tadinya bersifat filosofik menjadi psikologi yang bersifat empiric (Amadi, 1998:6). Dalam hal ini, sekalipun psikologi pada akhirnya memisahkan diri dari filsafat, namun psikologi masih tetap mempunyai hubungan dengan filsafat, bahkan ilmu-ilmu yang telah memisahkan diri dari filsafatpun tetap masih ada hubungan dengan filsafat, khususnya filsafat ilmu, terutama mengenai hal-hal yang menyangkut sifat, hakikat, serta tujuan dari ilmu pengetahuan itu, (Ahmadi, 1998:28-29).

Oleh karena itu, pada pembahasan mengenai sejarah psikologi ini, akan dibagi ke dalam tiga fase perkembangan psikologi, yaitu: psikologi sebagai bagian dari filsafat (psikologi klasik), psikologi mulai berdiri sebagai ilmu pengetahuan yang mandiri, dan psikologi di abad 20 (psikologi modern). Uraian masing-masing fase adalah sebagai berikut.

A. Psikologi Sebagai Bagian dari Filsafat (Psikologi Klasik, 500 SM–1800 M)
Pada zaman dahulu, psikologi dipengaruhi oleh cara-cara berpikir filsafat. Hal ini terjadi karena para ahli psikologi pada masa itu adalah juga ahli-ahli filsafat, atau para ahli filsafat pada waktu itu juga ahli psikologi (tentang kejiwaan). Memang seseorang yang dikatakan filusuf pada zaman Yunani kuno, adalah orang yang memiliki keahlian berpikir dalam segala macam ilmu. Pada periode ini tidak ada spesialisasi dalam lapangan keilmuan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semua ilmu tergolong dalam apa yang disebut filsafat itu. Para ahli filsafat ada yang mengatakan bahwa filsafat adalah induk ilmu pengetahuan. Pengaruh filsafat terhadap psikologi klasik berlangsung sejak zaman Yunani Kuno sampai zaman pertengahan (dari 400 SM sampai dengan 1800 M). Pada zaman Yunani kuno terkenal dua orang tokoh filusuf yaitu Plato dan Aristoteles, dimana keduanya banyak mengungkapkan tentang hidup kejiwaan manusia dan alam ini. Kedua tokoh tersebut tidak sama alirannya, Plato terkenal dengan aliran berpikirnya yang disebut “idealisme” sedangkan Aristoteles terkenal dengan aliran “realisme” nya. Akan tetapi mengenai kejiwaan, mereka tidak terlalu jauh berbeda pendapatnya.

1. Psikologi Plato (427 -347 SM)
Plato (427-347 SM) adalah seorang penganut idealisme. Plato menyatakan bahwa, dunia kejiwaan berisi ide-ide yang berdiri sendiri-sendiri dan terlepas dari pengalaman hidup sehari-hari. Jiwa yang berisi ide-ide ini oleh Plato diberi nama “Psyche". Psyche, menurut Plato terdiri dari tiga bagian, yang disebut trichotomi, yaitu:
1. Berpikir atau pikiran, berpusat di otak dan disebut logisticon;
2. Kemauan atau kehendak, berpusat di dada dan disebul thumeticon; dan
3. Keinginan atau nafsu, berpusat di perut dan disebut abdomen.
Pembagian psyche ke dalam tiga bagian menurut Plato akan berhubungan dengan pembagaian kelas dalam struktur masyarakat. Struktur masyarakat tersebut yaitu:
1) Kaum filusuf, yang mempunyai fungsi berpikir dalam masyarakat;
2) Kaum prajurit, yang mempunyai fungsi berperang untuk memenuhi dorongan-dorongan dan kehendak masyarakat terhadap bangsa lain; dan
3) Kaum pekerja (buruh), yang fungsinya bekerja untuk memenuhi keinginan-keinginan masyarakat akan makanan, pakaian, perumahan dan sebagainya, guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Bagi Plato dari ketiga bagian psyche itu, fungsi berpikirlah yang terpenting. Keadaan jiwa seseorang dan arah perkembangan jiwa orang itu dipengaruhi terutama sekali oleh fungsi berpikir pada orang yang bersangkutan. Dalam masyarakatpun para filusuflah yang paling menentukan keadaan dan arah perkembangan suatu masyarakat. Karena pendapatnya itu, Plato sering disebut orang rasionalisme, yaitu paham yang mementingkan rasio (akal) di atas fungsi-fungsi kejiwaan yang lain.

2. Psikologi Aristoteles (384-322 SM)
Aristoteles adalah murid Plato yang kemudian terkenal dengan pikiran-pikirannya sendiri yang berbeda dari gurunya. Apabila Plato seorang rasionalis yang percaya bahwa segala sesuatu bermula dari rasio dan dari ide-ide yang dihasilkannya, bagi Aristoteles berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang berbentuk kejiwaan ("form") harus menempati suatu wujud tertentu ("matter"). Wujud ini pada hakekatnya merupakan pernyataan atau ekspresi dari jiwa. Hanya Tuhanlah satu-satunya hal yang tanpa wujud. Tuhan adalah “Form" saja tanpa "matter".

Form menurut Aristoteles dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: 1) Plant, yang mengontrol fungsi-fungsi vegetatif; 2) animal, yang dapat dillhat dalam fungsi-fungsi seperti berkhayal, mengingat, berharap, persepsi, dan sebagainya; dan 3) rasional, yang memungkinkan manusia melakukan penalaran (reasoning) dan membentuk konsep-konsep. Dalam pengertian lain, Aristoteles membagi tingkatan-tingkatan jiwa manusia itu ke dalam tiga tingkatan, yaitu:
1) Anima vegetativa, jiwa tumbuh-tumbuhan yang fungsinya hanya sebatas makan dan berkembang biak;
2) Anima sensitiva, jiwa hewani yang fungsinya dapat mengindera dan menggunkan nafsunya untuk bergerak dan berbuat;
3) Anima intelektiva, jiwa manusia yang berpikir dan berkehendak.
Dengan pandangannya ini Aristoteles sering disebut sebagai penganut paham empirisme. Menurut Plato segala sesuatu harus bertitik tolak dari realita, yaitu dari "matter" itu. Matter yang dapat diketahui melalui pengamatan atau pengalaman empiris merupakan sumber utama dari pengetahuan. Pandangan-pandangan dan teori Aristoteles tentang psikologi dapat ditemui dalam bukunya yang terkenal De Anima.

3. Psikologi Agustinus (354 – 430 M)
Agustine atau Santo Agustinus, memperkenalkan beberapa konsep yang penting dalam psikologi. Manusia pada dasarnya bersumber pada alam. Dalam diri manusia sudah ada dua dorongan yang diberikan alam, yaitu dorongan jahat dan dorongan baik. Dorongan jahat harus ditekan atau dilawan, tapi dorongan baik harus dirangsang agar tumbuh terus untuk mencapai kesempurnaan kepribadian. Manusia harus dibersihkan dari dosa dan kesalahan. Untuk itu maka perasaan takut harus ditimbulkan dalam diri orang agar orang itu tidak melakukan perbuatan dosa. Augustine mengatakan, bahwa cara untuk menumbuhkan rasa takut dalam diri manusia itu bermacam-macam, tidak sama pada setiap orang, karena pada hakekatnya tidak ada dua orang yang persis sama. Dengan pendapatnya ini, maka Augustine tergolong orang yang pertama-tama mengamati adanya perbedaan individual (individual difference). Metode yang dipakai untuk mengetahui dosa-dosa dalam diri seseorang, adalah orang yang bersangkutan harus menjelajahi alam kesadarannya sendiri. Alam kesadaran (Conciousness) bagi Augustine adalah satu kenyataan yang tak terbantah kebenarannya. Caranya, orang yang bersangkutan menjelajahi atau mengeksplorasi kesadaran sendiri dengan metode introspeksi.

Dengan menyuruh kliennya mengintrospeksi dirinya sendiri, Augustine melihat bahwa dalam jiwa terdapat bagian-bagian atau fakultas (faculties). Fakultas-fakultas itu antara lain ingatan, imajinasi, indera, kemauan, akal dan sebagainya. Dengan teorinya ini, Augustine sering pula disebut tokoh Psikologi Fakultas (Faculty Psychology). Pada beberapa ratus tahun kemudian pandangan psikologi fakultas ini dikembangkan oleh F.J. Gall (1758-1828), yang mengatakan bahwa fakultas-fakultas yang terdapat dalam jiwa manusia itu tercermin pada tengkorak manusia. Gall mengatakan, kalau kita hendak mengetahui jiwa seseorang, maka kita cukup hanya meraba tengkorak kepalanya saja dan mencari bagian-bagian yang menonjol dari tengkorak itu. Karena tiap fakultas kejiwaan menurut teori ini, dicerminkan pada salah satu bagian tertentu di tengkorak kepala itu. Maka dengan mengetahui bagian-bagian tengkorak yang menonjol tadi, maka kita akan mengetahui pula fakultas-fakultas kejiwaannya. Teori dari F.J. Gall ini terkenal dengan nama Phrenologi.

4. Psikologi pada Masa Renaissance dan abad ke-18
Bagi perkembangan ilmu pengetahuan, masa renaissance adalah suatu masa yang cerah, karena pada saat itulah mulai berkembangnya ilmu-ilmu pengetahuan dengan pesat, termasuk psikologi. Ilmu pengetahuan dirasakan sebagai suatu cara yang obyektif di dalam memahami dan memecahkan masalah-masalah ilmiah. Misalnya penemuan Copernicus (1543), tentang peredaran matahari, Kepler yang menggunakan metode matematis induktif dalam penelitian jagat raya, dan Sir Isaac Newton yang melanjutkan usaha-usaha Kepler sehingga menemukan hukum-hukum gravitasi. Selain itu dalam lapangan medis ditemukan melalui percobaan-percobaan Harvey (1628) tentang peredaran darah, Leewenhock dari Belanda menemukan mikroskop yang telah membuka lapangan baru dalam bidang biologi.

Situasi jaman renaissance tersebut, besar pengaruhnya terhadap perkembangan psikologi waktu itu. Misalnya Francis Bacon (1521 - 1626), mengembangkan metode induktif dalam ilmu pengetahuan. Kemajuan ilmu pengetahuan pada abad ke 17 ini, banyak dipengaruhi oleh metode empiris yang mengutamakan observasi. Hal tersebut membawa pengaruh pula terhadap paikologi, terutama dalam mengadakan observasi langsung. Descartes (1596-1650) ilmuwan asal Perancis membedakan prilaku antara manusia dan hewan. Menurut Descartes, prilaku hewan berdasarkan pada prinsip mekanistis. Sedangkan pada manusia, di samping secara kualitatif bersifat mekanistis, manusia juga mempunyai kemampuan untuk bebas memilih. Manusia mampu berinisiatif, sedangkan hewan tidak. Tindakan manusia menurut Descartes dibagi menjadi dua bagian: 1) Alam mekanik dan 2) Alam rasio. Jiwa manusia terdiri dari dua bagian pula yaitu: ras cognitas dan res extensa. Descartes menganggap bahwa jiwa itu sebagai satu kesatuan di luar keteraturan ruang dan dapat diperluas. Hubungan antar badan dan jiwa dimungkinkan karena adanya kelenjar pineal (pineal gland).

Sumbangan Descartes terhadap psikologi adalah analisa mengenai emosi yang terdiri dari 6 elemen, yaitu: Keheranan/kekaguman, cinta, benci, keinginan, kesenangan, dan kesedihan (wonder, love, hate, desire, joy, and sadness).
Leibniz (1646–1726) di Jerman menggunakan metode-metode ilmu pangetahuan alam ke dalam psikologi. Ia mencari jawaban tentang relasi antara badan dan jiwa. Kegiatan badan terjadi karena hukum-hukumnya; pekerjaan jiwa tidak membawa reaksi terhadap badan. Jiwa dan badan dapat bekerja sama karena telah dibuat secara harmonis.
Thomas Hobes (1588-1679) sebagai seorang empiris dari Inggris yang mengembangkan teori mekanistis dalam Psikologi. Hobes membedakan antara pengalaman asli dengan hasil pengalaman. Elemen jiwa manusia adalah mencari kebahagiaan dan menghindari rasa sakit, dalam mencari kebahagiaan tersebut individu berjuang survival for the fittes dengan melalui kontak sosial. Menurut Hobes, bahwa semua kesan-kesan hasil kontak sosial itu selanjutnya akan saling berasosiasi.

John Locke (1632-1704) merupakan seorang yang membawa empirisme ke dalam psikologi. la terkenal dengan teori "tabularasa" yang menganggap bahwa anak lahir dalam keadaan kosong (bersih). Menurut John Locke “idea” datang melalui pengalaman yang mempunyai dua sumber, yaitu sensation (pendirian.) yang bersifat sekunder dan reflection (pengamatan) yang bersifat primer.

Perkembangan psikologi pada abad ke-17 atau awal abad ke-18, lebih dikenal sebagai abad rasionalisme dan dalam psikologi berkembang aliran psikologi assosiasi, aliran psikologi elementer, dan aliran psikologi fisiologi.

Psikologi assosiasi berusaha mempelajari jiwa dengan metode analitis-syntetis, seperti yang digunakan dalam ilmu alam, karena pasikologi tersebut mempunyai anggapan bahwa jiwa itu terdiri dari elemen-elemen (unsur-unsur) atau kumpulan unsur-unsur atau tanggapan-tanggapan yang berproses menurut hukum-hukum yang pasti, yaitu hukum-hukum sebab akibat dan hukum assosiasi. Jiwa dipandang sebagai mesin yang berjalan secara mekanis menurut hukum-hukum tertentu; jadi jiwa menurut paham ini dipandang pasif, yang aktif adalah hukum-hukum yang menggerakannya. Aliran psikologi ini, mengutamakan tanggapan-tanggapan, ingatan-ingatan serta penginderaan.

Dengan metode analitis, psikologi aliran ini berusaha menganalisis gejala-gejala psikologis dan elemen-elemen yang pokok berupa tanggapan-tanggapan dan dengan metode sintetis, psikologi ini menyusun tanggapan-tanggapan tersebut secara assosiatif menjadi suatu gejala psikologis yang bersenyawa. Dan inilah salah satu contoh dari pada psikologi yang terpengaruh secara tak langsung oleh fisika (ilmu alam) sejak abad ke-17. Tokoh-tokoh dari psikologi assosiasi ini antara lain: John Stuart Mill, John Locke, David Hume, Hartley dan lain-lain.
Psikologi Elementer dari Herbart yang berpendapat bahwa jiwa itu terbentuk oleh karena.adanya respons (tanggapan-tanggapan). Teori Herbart ini dikenal dengan nama teori tanggapan (voorstelings theorie). Dengan menggunakan metode sintetis-analitis, ia mengemukakan pendapat bahwa jiwa terdiri dari dua lapisan yaitu: jiwa yang disadari dan jiwa yang tidak disadari, di antara keduanya terdapat ambang kesadaran. Tidak semua tanggapan itu disadari, karena di antara tenggapan-tanggapan yang masuk terdapat pertentangan yang saling tolak menolak. Atas dasar teori Herbart itu maka semua fungsi kejiwaan manusia dipandang sebagai akibat dari proses mekanis, misalnya; berfikir, merasakan, dan menghendaki timbul karena adanya assosiasi antara tanggapan-tanggapan yang masuk ke dalam jiwa kita menurut hukum-hukum assosiasi.. Hukum asosiasi yang dimaksud Herbart adalah sama waktu, berturut-turut, serupa, berlawanan, dan logis (sebab-akibat).

Psikologi Fisiologi, psikologi ini juga terpengaruh oleh ilmu alam, oleh karena itu, baik pendapat-pendapatnya maupun metodenya mirip dengan apa yang terdapat dalam ilmu alam (fisika). Adapun tokohnya antara lain: Johannes Muller (Jerman) yang berhasil mendapakan hukum kekuatan khusus dari pada indera (specifike energie der zinen), yang antara lain menyatakan bahwa masing-masing tanggapan itu menyebabkan timbulnya kekuatan atau reaksi yang khusus terhadap jenis tanggapan yang diterima melalui pancaindera tersebut. Teori yang lain dikemukan oleh Weber-Fechner. Teori ini beranggapan bahawa: "Antara suatu rangsangan dan tamnbahan intensitasnya terdapat suatu perbandingan yang tetap, sehingga kita dapat membedakannya". Ungkapan itu dapat dirumuskan dengan S = k log R di mana S berarti sensation, k adalah konstant dan R yang berasal dari kata "Reiz" berarti stimulus. Jadi menurut hukum tersebut, kalau kita menerima suatu rangsangan dan rangsangan itu bertarnhah kuat dalam ukuran tertentu, maka penginderaan kita juga akan bertambah kuat secara seimbang.

Sampai abad ke 19 psikologi meginduk pada filsafat dan cabang-cabang kajian dari ilmu alam lain. Baru pada akhir abad ke 19 yaitu pada tahun 1879 Wilhelm Mundt melepaskan psikologi dari ilmu alam dan filsafat menjadi ilmu yang berdiri sendiri.

B. Psikologi Sebagai Ilmu Pengetahuan yang Berdiri Sendiri
Akhir abad ke 19 merupakan titik permulaan dari pada psikologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri (otonom), yaitu sejak Wilhem Wundt (Jerman, tahun 1832-1920) melepaskan psikologi dari filsafat serta ilmu pengetahuan alam.
Wundt salah seorang pelopor usaha tersebut dengan mendirikan “laboratorium psikologi" yang pertama kali, yaitu pada tahun 1875, kemudian laboratorium tersebut disyahkan dan diakui oleh Universitas-Leipziq pada tahun 1886. Sejak pengesahan tersebut berarti psikologi menjadi ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri. Wundt sebagai tokoh psikologi eksperimental, berpendapat bahwa gejala jiwa tidak dapat diterangkan semata-mata hanya berdasarkan proses alam sebagaimana yang diterangkan dalam psikologi fisiologi. Wundt menganggap bahwa jiwa adalah sebagai suatu kebulatan (totalitas) yang dapat diuraikan sampai unsur-unsurnya yang terkecil hanya secara teoritis saja.

Menurut Wundt, gejala jiwa terdiri dari dua unsur, yaitu pengamatan dan perasaan tunggal. Wundt berpendapat bahwa kegiatan berpikir manusia merupakan proses kejiwaan yang tidak terjadi secara mekanis, melainkan dipengaruhi oleh perhatiannya yang disengaja yang menentukan jalannya assosiasi. Berpikir bukan proses assosiasi, tetapi proses appersepsi yang terjadi secara teleologis (bertujuan) sebagaimana halnya dengan kehendak sebagai proses appersepsi juga. Metode yang ia gunakan untuk menyelidiki jiwa bukan yang bersifat spekulatif, atau subyektif semata-mata, akan tetapi bersifat empiris, yaitu melalui eksperimen-eksperimen serta metode analitis sintetis seperti dalam ilmu alam.

Hal yang merupakan ambisi Wundt saat itu ialah memperkembangkan psikologi sedemikian rupa sehingga mempunyai identitas sendiri. Dengan adanya tujuan ini, maka dia mengambil langkah dengan meninggalkan Universitas Heidelberg dan menerima jabatan sebagai Ketua Bagian Filsafat di Universitas Leipzig, Jerman. Empat tahun kemudian, tahun 1879, Wundt mendirikan laboratorium psikologi eksperimen yang pertama di dunia, dan merupakan satu kehormatan yang luar biasa bagi psikologi, sehingga psikologi dapat dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.

Wundt sangat yakin bahwa tugas utama seorang psikolog adalah meneliti serta mempelajari proses dasar manusia, yaitu berupa pengalaman langsung, kombinasikombinasinya, dan hubungan-hubungannya. Bagaimana psikolog dapat mempelajari proses dasar kesadaran ini? Wundt dan pengikut-pengikutnya telah mengembangkan satu metode yang dinamakan introspeksi analitik (analytic introspection), yaitu suatu bentuk formal dari observasi yang dilakukan diri sendiri.

Titchener (1892), seorang murid Wundt, yang diserahi tanggung jawab terhadap laboratorium psikologi yang masih baru di Universitas Cornell, Amerika Serikat, terus menyebarluaskan pandangan Wundt dan kemudian menjadi pemimpin satu gerakan yang disebut Strukturalisme. William James (1842-1910) adalah salah satu psikolog Amerika yang cukup terkenal. Ia mengajarkan filsafat dan psikologi di Universitas Harvard selama 35 tahun. Dia sangat menentang strukturalis, karena menurutnya aliran ini sangat dangkal, tidak murni dan kurang dapat dipercaya kebenarannya. Kesadaran menurut James bersifat unik dan sangat pribadi, terus-menerus berubah, muncul setiap saat, dan selektif sekali ketika harus memilih dari sekian banyak rangsang yang mengenai seseorang. Yang paling menonjol dan utama ialah, bahwa kesadaran ini mampu membuat manusia menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitarnya.

John Watson (1878-1958) menamatkan pendidikannya dalam bidang psikologi hewan, di Universitas Chicago, di bawah asuhan seorang professor dari aliran fungsionalis. Watson tidak puas terhadap strukturalisme dan fungsionalisme dengan keluhan-keluhan sebagai berikut : bahwa fakta mengenai kesadaran tidak mungkin dapat dites dan direproduksi kembali oleh para pengamat, sekalipun sudah sangat terlatih.

Sejak psikologi berdiri sendiri yang menggunakan metode-metodenya sendiri dalam pembuktian-pernbuktian dan dalam penyelidikannya, maka timbullah berbagai macam, aliran psikologi yang bercorak khusus. Ciri-ciri khusus sebelum abad ke 18 antara lain adalah: (1) bersifat elementer, berdasarkan hukum-hukum sebab-akibat; (2) Bersifat mekanis; (3) Bersifat sensualistis intelektualistis (mementingkan pengetahuan dan pikir); (4) Mementingkan kuantitas, (5) Hanya mencari hukum-hukum; (6) Gejala-gejala jiwa dipisahkan dari subyeknya; (7) Jiwa dipandang pasif; (8) Terlepas dari materi-materi.

Adapun ciri psikologi pada akhir abad ke 19 dengan metodenya sendiri yaitu: sebagai berikut: (1) Bersifat totalitas; (2) Bersifat teleologis (bertujuan); (3) Vitalistis biologis (Jiwa dipandang aktif dan bergerak dalam hidup manusia); (4) Melakukan pendalaman dan penyelaman terhadap jiwa (verstehend); (5) Berdasarkan nilai-nilai; (6) Gejala-gejala jiwa dihubungkan dengan subyeknya; (7) Memandang jiwa aktif dinamis; (8) Mementinkan fungsi jiwa; (9) Mementingkan mutu/kualitas; (10) Lebih mementingkan perasaan.

Dengan otonominya sebagai ilmu pengetahuan itu maka sejak tahun 1900, timbullah aliran-aliran baru yang bersifat khusus, seperti: Ilmu Jiwa Dalam (Diepte Psychology), Psikologi Kognitif, Psikologi Individual, Behaviorisme , Psikologi Gestalt, Psikologi Kepribadian dan lain-lain.

C. Psikologi Pada Abad Ke-20
Psikologi dalam abad ke 20 mengalami perkembangan yang menuju ke arah pengkhususan dalam studi, dengan pengkhususan tersebut ditujukan sebagai pendalaman terhadap bidang-bidang penyelidikan dan juga untuk penyesuaian dalam penerapannya bagi kehidupan manusia. Mulal permulaan abad ke-20 ini psikologi mempunyai lebih banyak aliran-alirannya dengan spesialisasi bidang penelitian masing-masing serta penerapannya. Contohnya adalah aliran Psikoanalitis, Behaviorisme, dan Humanisme.

Psikoanalitis (Psycho-analysis), yaitu aliran yang berusaha menyelidiki tentang kejiwaan yang berada di bawah sadar manusia. Tokoh-tokohnya yang terkenal antara lain: Breuer, seorang Austria yang tinggal di kota Wina, ia seorang dokter ahli penyakit syaraf (Psikiater). Mula-mula ia tertarik kepada pengobatan penyakit jiwa yang disebut hysterie. Dia terkenal sebagai pencipta metode psikoanalisa untuk pengobatan penyakit jiwa manusia. Tokoh yang lainnya adalah Sigmund Freud, seorang ahli penyakit syaraf yang tinggal di Wina (1856 – 1039). Ia sangat tertarik kepada psikoanalisa-nya Breuer, sampai kemudian ia mengembangkannya sendiri. Sasaran utama penyembuhan penyakit jiwa menurut Freud adalah terletak pada lapisan jiwa yang tidak disadari. Jiwa menurut Freud didorong oleh suatu keadaan yang tidak disadari pada manusia tersebut yang disebut libido sexuality. Selanjutnya Freud membagi dorongan jiwa libido tersebut menjadi tiga bentuk, yaitu: id, ego, dan superego.

Selain Psikonalisis, aliran yang sangat populer pada waktu itu (abad ke 20) di Amerika Serikat, ialah behaviorisme, yang menitik beratkan pandangannya bahwa manusia ataupun hewan dapat dipelajari dari segi tingkah laku lahiriyahnya. Usaha penyelidikannya banyak dilakukan melalui eksperimen-eksperimen laboratorium. Tokohnya antara lain: William James, Watson, Skiner, Guthrie, Dewey dan lain-lain. Aliran ini sebenamya berpangkal pada pandangan filsafat pragmatisme, yaitu faham bahwa segala sesuatu dilihat dari sudut kemanfaatannya di masyarakat. Faham ini menjadi way of life bangsa Amerika Serikat sampai saat ini. Di Rusia, Pavlov telah mengembangan teori psycho-reflexio. Pavlov memandang bahwa kemampuan refleks manusia dapat dipengaruhi sedemikian rupa sehingga bisa menggerakkan perbuatan-perbuatannya, misalnya dengan cara memberi rangsangan atau menimbulkan refleks bersyarat. Teori Pavlov ini didasarkan pada percobaannya pada seekor anjing yang menjulurkan lidah dan mengeluarkan air liurnya ketika diberikan makanan.

Behaviorisme, sebutan bagi aliran yang dianut Watson, turut berperan dalam pengembangan bentuk psikologi selama awal pertengahan abad ini, dan cabang perkembangannya yaitu psikologi stimulus-response (rangsangan-tanggapan) masih tetap berpengaruh. Hal ini terutama karena hasil jerih payah seorang ahli psikologi dari Harvard, B.F.Skinner. Psikologi Stimulus-Response (S-R) mempelajari rangsangan yang menimbulkan respon dalam bentuk perilaku, mempelajari ganjaran dan hukuman yang mempertahankan adanya respon itu, dan mempelajari perubahan perilaku yang ditimbulkan karena adanya perubahan pola ganjaran dan hukuman (Skinner, 1981. dalam Hilgard, 1987:8-9).

Telaah aksiologi terhadap aliran behaviorisme yang menempatkan factor belajar sebagai konsep yang penting akan dapat didekati dengan teori moral imperatif dari Immanuel Kant. Immanuel Kant mengemukakan bahwa manusia berkewajiban melaksanakan moral imperatif. Pada satu sisi, dengan moral imperatif, manusia masing-masing bertindak baik, bukan karena ada paksaan, melainkan karena sadar bahwa tindakan tidak baik orang lain adalah mungkin merugikan kita dimana disini terlihat pentingnya aspek belajar dalam kehidupan manusia. Pada sisi lain, dengan moral imperatif tersebut, semua orang menjadi saling mengakui otonominya. Dilihat dari sisi rekayasawan, teori moral ini lebih mengaksentuasikan pada kewajiban dan otonomi serta tanggung jawab rekayasawan.

Sementara Behaviorisme berkembang pesat di Amerika Serikat, maka di negara Jerman muncul aliran yang dinamakan Psikologi Gestalt (arti kata Gestalt, dalam bahasa Jerman, ialah bentuk, pola, atau struktur). Para psikolog Gestalt yakin bahwa pengalaman seseorang mempunyai kualitas kesatuan dan struktur. Aliran Gestalt ini muncul juga karena ketidakpuasan terhadap aliran strukturalis, khususnya karena strukturalis mengabaikan arti pengalaman seseorang yang kompleks, bahkan dijadikan elemen yang disederhanakan.

Aliran psikologi Gestalt mempunyai banyak tokoh terkemuka, antara lain Wolfgang Kohler, Kurt Koffka, dan Max Wertheimer. Aliran psikologi Gestalt ini nampaknya merupakan aliran yang cukup kuat dan padu. Falsafah yang dikemukakannya sangat mempengaruhi bentuk psikologi di Jerman, yang kelak juga akan terasa pengaruhnya pada psikologi di Amerika Serikat (terutama dalam penelitian mengenai persepsi). Hal itu nampak dari kedua aliran psikologi modern yang sejaman, yaitu aliran Humanisme dan aliran Kognitif (Davidoff, 1988: 16-19).

Kedua aliran di atas (psikoanalisis dan behaviorisme) telah mengundang reaksi yang bergam dari ahli-ahli psikologi lain. Pandangan yang berbeda dengan dua aliran itu membuat aliran baru dalam psikologi yang terknbal dengan nama aliran humanisme. Suatu aliran yang memandang manusia sebagai manusia yang unik dan berbeda dengan hewan. Psikolog yang berorientasi humanistic mempunyai satu tujuan, mereka inin memanusiakan psikologi. Mereka ingin membuat pskologi sebagai studi tentang “apa makna hidup sebagai seorang manusia”. Mereka berasal dari berbagai latar belakang dan keyakinan yang beragam. Salah satu tokohnyanya adalah Alfred Adler. Ia berusaha menyelidiki hidup kejiwaan manusia dari segi pribadi perorangan dan menurut sumber pokok hidup kejiwaannya. Ia membantah pandangan Freud tentang libido Sexualtys. Aliran ini berpandangan bahwa pengertian pokok psikologi adalah pengertian tentang individualitas, sedangkan individualitas adalah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur kejiwaan yang satu sama lain berhubungan sebagai suatu kebulatan di mana unsur kejiwaan yang bulat itu menjadi sumber dari segala tingkah laku dan watak manusia. Menurut pendapat Adler, hidup kejiwaan itu tidak statis tetapi dinamis yang berpusat pada satu taealos (tujuan). Segala aktivitas kejiwaan, seperti berpikir, berkemauan dan berbuat, itu bukanlah merupakan akibat pengaruh faktor-faktor psikologis dari masa silam, akan tetapi oleh karena adanya taealos tersebut. Tokol humanisme lainnya adalah Carl Gustav Jung, seorang ahli penyakit jiwa Jerman di Zurich pada tahun 1923. Ia mengembangkan teori dalam bukunya “Psychologische Typen."

BAB II
SEJARAH KOMUNIKASI MENJADI ILMU
(Dari Fenomena Menjadi Ilmu)

A. Yunani
Berakar pada ajaran tentang retorika Istilah retorika (rhetorike dalam bahasa Yunani, rhetorika dalam bahasa Latin) dikenalkan pertama kali oleh Georgias pada tahun 427 SM. Akan tetapi prinsip-prinsip retorika atau pidato telah dikaji sebelum Georgias. Uraian sistematis pidato (retorika) yang pertama telah dikaji oleh orang Syrecuse di Pulau Sicilia, sebuah pulau koloni Yunani. Adalah Corax sekitar tahun 465 SM telah menyusun beberapa makalah pidato yang ditujukan sebagai pembelaan bagi orang-orang Syrecuse untuk mendapatkan kembali tanahnya yang sempat hilang akibat direbut penjajah. Makalah-makalah Corax itu diberi nama Techne Logon (Seni Kata-kata). Corax telah meletakkan prinsip-prinsip dasar dalam berpidato. Supaya bicara kita diperhatikan orang lain, Corax membagi pidato menjadi lima tahapan, yaitu: pembukaan, uraian, argumen, penjelasan tambahan, dan kesimpulan.

Empedocles (490-430 SM) Karya tulisnya berupa The Nature of Things berisi hasil pemikirannya tentang alam dan manusia. Dialah yang telah mengajarkan prinsip-prinsip retorika yang kelak dibawa dan diperkenalkan oleh Georgias. Kemudian pada tahun 427 SM, Georgias dalam retorikanya adalah penekanan pada dimensi bahasa yang puitis dan teknik berbicara yang impromtu. Kemahiran berbicara menurut Protagoras ditujukan bukan untuk kemenangan melainkan untuk keindahan bahasa. Georgias dan Protagoras berkeliling negeri untuk mengajarkan dan mendirikan sekolah-sekolah retorika. Protagoras bersama murid-muridnya telah memproklamirkan diri sebagai kaum sophistai (atau sophis, guru kebijaksanaan).

Demosthenes yang hidup pada tahun 384-322 SM berhasil mengembangkan retorika dengan gaya yang tidak berbunga-bunga, namun jelas dan keras. Konsep pidatonya berhasil menggabungkan antara narasi dan argumentasi. Pada masa-masa itu, kaum sophis menjadi populer dan banyak dibicarakan. Namun tidak sedikit pula yang menyimpan kekecewaaan dan kritik terhadap kaum sophis. Menurut mereka, kaum sophis hanya menjual kepandaian retorika untuk kepentingan materi (uang). Socrates mengkritik kaum sophis itu dengan menuduh bahwa retorika bagi kaum sophis hanya untuk mencari kemenangan bukan kebenaran. Maka, Socrates mengembangkan teknis-teknik retorika untuk kebenaran dengan teknik-teknik dialog. Bersama dengan Plato, murid Socrates, mereka mengembangan teknik retorika dengan adanya pengorganisasian pesan dan gaya. Dalam karya Plato yang berjudul Dialog, Plato menganjurkan bagi para orator untuk mengenal jiwa pendengarnya. Plato lah yang mulai meletakan prinsip dasar retorika dari sekedar teknik menjadi retorika ilmiah.

Pandangan-pandangan Plato diteruskan oleh muridnya yang cerdas yang bernama Aristoteles. Aristoteles melanjutkan kajian-kajian ilmiah retorika yang ia peroleh dari Plato. Bagi Aristoteles, retorika adalah seni persuasi, suatu uraian yang harus singkat, jelas, dan meyakinkan dengan keindahan bahasa yang disusun untuk hal-hal yang bersifat memperbaiki (corrective), memerintah (instructive), mendorong (suggestive), dan mempertahankan (defensive). Bukunya yang terkenal dengan judul De Arte Rhetorika memberikan lima tahapan penting bagi orator untuk menyusun pidatonya, yaitu: inventio (penemuan), disposotio (penyususnan), elucotio (gaya), memoria (memori), pronuntiatio (penyampaian). Selain itu, Aristoteles juga menyebutkan tiga faktor yang dapat mempengaruhi orator dalam meyakinkan pendengarnya, yaitu: ethos (kepercayaan), pathos (emosi), dan logos (pikiran). Kajian ilmiah retorika Aristoteles bersifat sistematis dan komprehensif. Retorika ala Aristoteles banyak dipelajari oleh bangsawan dan negarawan Yunani. Pengaruhnya juga sampai di Romawi dan berkembang di sana.

Perkembangan retorika di Yunani berlangsung melalui tradisi komunikasi publik yang dikenal dengan perkembangan debat. Pelopornya adalah Protagoras (481–411 SM), pada masa itu orang yang tidak pandai berbicara terpaksa menyewa orang lain untuk berbicara atas namanya di pengadilan, lembaga legislatif dan acara ceremonial. Yang kemudian periode ini dikenal sebagai masa perubahan sosial dan politik secara radikal di Yunani yang berkembang dari tatanan sosial tradisional, militeristik menjadi demokrasi yang belum matang, pada periode ini komunikasi publik tidak begitu dihargai, orang–orang Yunani tidak pernah merancang komunikasi publik secara integratif ke dalam tatanan politik mereka, alhasil bangsa Athena tidak cukup demokratis.

Kaum Sofis (the sophists) Memiliki pendekatan yang sangat pragmatis dalam komunikasi publik yaitu: 1) pengajaran keterampilan untuk menyampaikan pesan daripada mengajarkan bagaimana mengevaluasi isi pesan secara kritis, 2) tidak begitu memperhatikan kemungkinan pelecehan terhadap keterampilan tersebut dan 3) agak mengabaikan pengajaran tentang etik. Barulah keuntungan reputasi dengan tanpa mengindahkan moral dan berkomunikasi di depan publik untuk kepentingan diri sendiri. Harper (1979-24) melukiskan pendekatan kaum Sofis: “Retorika pada fase awal periode klasik, pada intinya dipandang sebagai ketrampilan teknis. Ia mengandung seperangkat resep untuk mengantarkan ungkapan publik dalam pengadilan, lembaga legislatif dan forum publik lainnya. Ia mengandung pengaturan tentang penggabungan materi, mengorganisirnya menjadi sebuah pesan dan menyampaikannya secara oral kepada kelompok besar manusia.”

Kaum sofis berusaha memantapkan komunikasi publik melalui formalisasi pengajaran teknik yang memungkinkan seseorang berkomunikasi di depan publik secara efektif. Tapi, mereka gagal meyakinkan bahwa komunikasi publik sebagai sebuah landasan demokrasi yang tidak bisa digugat. Aliran Socrates (the socrates school) berkembang sebagai reaksi atas kaum Sofis, pelopornya: Socrates, Plato. Perlunya mengembangkan teori yang luas tentang komunikasi publik yang menempatkan etika sama pentingnya dengan masalah teknik komunikasi. Mereka menentang kaum Sofis yang mengajarkan teknik untuk membangkitkan emosi dan merintangi pembuatan keputusan rasional. Pendekatan Socrates menekankan peraturan dan keterampilan berkomunikasi dengan keharusan mengembangkan dan menerapkan akal pikiran.

Warisan ajaran Socrates adalah sebuah komitmen yang tidak dapat dikompromikan tentang penggunaan komunikasi publik yang terspesialisasi dalam mengejar kebenaran, tetapi bukan untuk mengembangkan demokrasi. Kaum Sofis tetap teguh mempertahankan tatanan sosial demokratik yang mengijinkan mereka mempraktekan teknik berbicara di depan publik tanpa hambatan.

Selama 200 tahun De Arte Rhetorika-nya Aristoteles berpengaruh di Romawi. Selama itu, kajian retorika tidak mengalami penambahan. Pada tahun 100 SM, lahir buku Ad Herrenium yang mensistemasikan retorika gaya Yunani ke cara-cara Romawi. Orang Romawi hanya mengambil segi-segi praktisnya saja dari retorika Yunani. Orator-orator yang terkenal pada masa itu adalah Antonius, Crassus, Rufus, dan Hortensius. Hortensius mengembangkan retorika dengan mempelajari gerakan-gerakan dalam berpidato dan cara penyampaiannya. Kemampuan ini kemudian dikembangkan lagi oleh Marcus Tulius Cisero yang hidup tahun 106-43 SM. Cicero banyak menulis buku filsafat dan lima buah buku retorika, salah satunya De Oratore. Menurut Cicero, efek dari pidato akan baik bila orator adalah orang yang baik. Prinsip ini terkenal dengan istilah The good man speaks well. Cicero sangat terampil menyederhanakan pembicaraan yang sulit. Cicero mengembangkan sistematika retorika mencakup dua tujuan pokok, yaitu tujuan yang bersifat suasio (anjuran) dan dissuasio (penolakan). Ada dua tahapan dalam retorika gaya Cicero, yaitu tahap investio (pencarian bahan) dan tahap ordo collocatio (penyusunan pidato).

Seorang pangagum Cicero yang bernama Quintillianus berhasil mendirikan sekolah retorika. Melalui sekolah ini dia mengajarkan retorika dengan prinsip yang dikembangkan Cicero, yaitu the good man speaks well. Quintillianus mendefenisikan retorika sebagai ilmu berbicara yang baik. Pendidikan orator menurut Quintillianus harus dimulai sejak lahir. Orator sebaiknya harus dari keluarga terdidik agar memiliki akhlak yang baik dan ajaran yang benar.

Sampai tahun 500 M, retorika di Yunani dan Romawi didominasi oleh negarawan, politis, dan bangsawan. Para orator banyak yang terlibat di panggung-panggung politik. Mulai tahun 500 M retorika mengalami kemunduran. Banyak kaisar yang tidak senang dengan orang-orang yang pandai bicara. Maka dengan kekuasaanya, kaisar membatasi ruang gerak orator.

Abad ini dikenal pula dengan abad kegelapan. Pada abad ini gereja begitu mendominasi sendi-sendi negera termasuk terhadap kehidupan sosial dan perkembangan ilmu. Bagi agama Kristen, retorika dianggap kesenian “kafir” dan “jahiliyah”, sehingga dilarang untuk dipelajari. Akan tetapi, Santo Agustinus malah menganjurkan bagi para pengkhotbah untuk mempelajari teknik menyampaikan pesan untuk mengungkapkan kebenaran. Menurut Agustinus dalam bukunya On Cristian Doctrine tahun 426, menjelaskan bahwa para pengkhotbah harus mampu mengajar, menggembirakan, dan menggerakkan. Sebelum jadi Kristen, Agustinus pernah mempelajari retorika, sehingga anjuran-anjuran bagi para pengkhotbah banyak dipengaruhi teori-teori retorika Aristoteles dan Cicero.

Pada abad ke enam, di Timur Tengah berkembang agama Islam. Utusan Allah yang bernama Nabi Muhammad telah berhasil membawa perubahan hidup manusia melalui firman-firman Allah yang ia sampaikan. Dengan tutur kata dan sikapnya yang mulia, Nabi Muhammad berhasil membawa perubahan kehidupan manusia pada saat itu kepada kehidupan yang penuh hukum, aturan, dan tatanan bermasyarakat. Menurut riwayat, bila Nabi Muhammad sedang berpidato menyampaikan ajaran Allah, retorikanya begitu menyentuh hati, kata-katanya lantang dan tegas, serta wajahnya mengekspresikan ketegasan.

Nabi Muhammad tidak pernah mempelajari retorika dari Georgias, Aristoles, atau Cicero. Dia mempelajari retorika melalui bimbingan wahyu dan Dia menganjurkan kepada para pengikutnya untuk mengajak manusia pada kebenaran dengan prinsip-prinsip qoulan sydidan (QS. 4:9, 33:70), qoulan balighan (QS. 4:63), qaulan masyuran (QS. 17:28), qaulan layyinan (Qs. 20:44), qaulan kariman (QS. 17:23), qaulan ma’rufan (QS. 4: 5).

B. Jerman (Publisistik)
Ditandai dengan kemunculan Zeitungskunde (1984) Sebagai bidang kajian di Universitas Bazel, Swiss. Karl bucher (1847-1930) ahli ekonomi mazhab historis mengajar di Universitas ini & kembali ke Jerman (1892) mengajarkan Zeitungskunde di Universitas Leipzig Jerman.
Ringkasnya, jasa Karl Bucher, sebagai berikut:
a. Memprakarsai penyelidikan historis tentang suratkabar
b. Memperkenalkan pengetahuan persuratkabaran sebagai bidang kajian ilmu di universitas
c. Memprakarsai pendirian sebuah lembaga persuratkabaran yang pertama di Eropa kontinental : Leipzig
d. Memperjuangkan diselenggarakannya pendidikan kewartawanan di Universitas. Zeitungskunde menjadi disiplin ilmu yang dikenal “Ilmu Komunikasi” sekarang.
Max Weber (1862-1920), tahun 1910 (di Konferensi Sosiologis) memperkenalkan pendekatan Sosiologis “Soziologie des Zeitungswesens”:
1. Soal modal & pengaruh para pemilik modal terhadap redaksi
2. Sifat kelembagaan (institution character) suratkabar.
Menurut Weber:
1. Persoalan modal penting bagi kelembagaan suratkabar bukan saja menyangkut kebijaksanaan redaksional.
2. Institution character menyiratkan kedudukan pers sebagai bentuk lembaga sosial yang memiliki kepribadian (personality) sendiri
Di atas telah disinggung bahwa publisistik merupakan perkembangan dari zeitungswissenchaft, perkembangan tersebut disebabkan: Pertama, Khalayak membutuhkan ilmu pernyataan umum. Kebutuhan tersebut semakin terasa mendesak ketika radio dan film tampil ke muka sebagai alat pernyataan publisistik baru. Kedua, Meskipun memang zeitungswissenschaft telah berhasil menjadi suatu ilmu yang disipliner dengan menggunakan gejala surat kabar sebagai objek penyelidikannya, namun satu hal yang tak terpegang itu inti daripada segala pernyataan umum yakni fungsi sosial daripada kata dan makna yang seluas-luasnya. Dan fungsi sosial ini ialah bahwa alat-alat komunikasi mendukung dan menyatakan segala isi kesadaran (bewustseininhalten) yang disampaikan kepada orang-orang lain dengan tujuan bahwa sikap rohaniah dari dia yang menerimanya menjadi sama arah dengan dia yang menyatakannya.

Publisistik mengajarkan bahwa setiap pernyataan kepada umum dengan menggunakan media apapun apakah cetak atau elektronik menciptakan suatu hubungan rohaniah antara si publisis dengan khalayak. Otto Groth Menulis dalam bukunya Die Zeitung bahwa hingga tahun 1928 ia telah membaca lebih kurang 4.800 judul karangan tentang persuratkabaran. Lebih kurang 2000 karangan lagi dengan berbagai bahasa di dunia ini yang belum sempat ia membacanya. Sampai tahun 1928 itu telah ada 500 disertasi tentang ilmu. Literatur Jerman yang bermutu mengenai ilmu kita pada fase zeitungskunde dan zeitungswissenschaft diantaranya yang dapat kita catat adalah sebagai berikut:
1. Karl Bucher, Gesammelte aufsatze zur zeitungskunde tubingen
2. Max Weber, soziologie des zeitungswesens
3. Erich Evert, Zeitungskunde und universitat jena
4. Emil Dovifat, Wege und ziele der zeitungswissenschaftlichen arbeit Berlin
5. Otto groth, die zeitung Mannheim (Kertapati, 1986)
De Bruyn di dalam bukunya Sociologie-publicistiek-omroep-wetenschap, antara lain menceritakan adanya pertentangan pendapat di sekitar tahun-tahun 1930 di antara sarjana yang menyarankan nama baru bagi ilmu kita dan golongan sarjana yang tetap mempertahankan nama Zeitungswissenshaft. Dan rupanya golongan yang menyarankan nama barulah yang berhasil mendesak pendapat opponent-nya. Dan sejak itu bergantilah sebutan bagi ilmu dari zeitungswissenschaft menjadi publisistik. Alasan-alasan ilmiah yang dikemukan golongan yang menghendaki publisistik sebagai nama baru bagi ilmu kita, dapat kita baca antara lain dari buku karangan Karl Jaeger yang berjudul Von der Zeitungskunde zur publizistichen wissenschaft (1926).
Beberapa media publisistik yang pernah terbit di Eropa: Notizie Scritte di Vinesia pada tahun 1566, Avisa Relation oder Zeitung yang terbit pada tahun 1909 di Augsbur, kemudian berturut-turut Frankfurter Oberpostzeitung pada tahun 1612, Zurich Zeitung Post pada tahun 1620 dan A Current of General news pada tahun 1622. Kemudian kegiatan Publisistik dilakukan juga melalui majalah, di antaranya yang terbit tahun 1731 dan termasuk majalah modern, yakni terbitan London Gentleman’s Magazine. Perkembangan publisistik selanjutnya ditandai dengan bangkitnya perhatian terhadap masalah retorika, radio, TV, film.

Hagemann (1966) dan Dofivat (1968) (figur penting dalam fase ini) menjadi embrio lahirnya ilmu publisitik yang otonom dengan objek penelitiannya offentliche aussage (pernyataan publik) sebab publisistik dipahami sebagai usaha menggerakkan dan membimbing tingkah laku publik secara rohaniah mengarah pada pertumbuhan teori imitasi-sugesti yang langsung di bawah pengaruh filsafat Neo-Idealis dan psikologi eksperimental.
Walaupun pada zaman Romawi sudah mulai berkembang proses pernyataan melalui media, tetapi belum dapat dinilai sebagai ilmu. Baru merupakan fenomena atau gejala. Ini terjadi ketika Gaulus Julius Caesar (100-44 SM), kaisar Romawi yang termasyur mengeluarkan peraturan agar kegiatan-kegiatan senat setiap hari diumumkan kepada masyarakat dengan cara ditempel pada papan pengumuman yang dinamakan Acta Diurna.

Fenomena jurnalistik yang sudah tampak pada bagian di atas tadi ternyata tidak berkembang disebabkan kekaisaran Romawi mengalami masa gelap. Baru pada tahun 1609 muncul di Jerman surat kabar pertama dalam sejarah dengan menyandang nama “Avisa Relation Order Zeitung” disusul oleh “Weekly News” yang diterbitkan di Inggris pada tahun 1622.

Di Swiss pada tahun 1884, Publisistik muncul dengan istilah Zeitungskunde di Universitas Bazel, dimana tokoh Karl Bucher (1847-1930) seharusnya kita nilai sebagai orang yang berjasa pada fase Zeitungskunde ini. Pada tahun ini pula, Karl memulai karirnya di bidang pendidikan. Tahun 1892, Karl Bucher kembali ke Jerman dan memberikan kuliah Zeitungskunde pada Universitas Leipzig. Yang dikuliahkan adalah adalah hal-hal mengenai: Sejarah Pers, Organisasi Pers dan Statistik Pers.

Sebagai hasil telaah para cendekiawan terhadap perkembangan dan pengaruh surat kabar itu, muncullah di Inggris “Science of the press,” di Prancis “Science de la Presse,” di Nederland “Dagbladwetenschap” dan di Jerman “Zeitungswissenschaft” yang kesemuanya berarti “Ilmu Persuratkabaran.” Ini terjadi pada abad 19.


C. Amerika (Journalisme, Mass Communication, dan Speech Communication)
Robert Bierstedt dalam bukunya, The Sosial Order, memasukan jurnalistik sebagai ilmu, dalam hal ini ilmu terapan. Hal ini tidak mengherankan karena pada tahun ia menulis bukunya itu, yakni tahun 1457, journalism di Amerika Serikat sudah berkembang menjadi ilmu (science), bukan sekedar pengetahuan (knowledge). Ini disebabkan oleh jasa Joseph Pulitzer, seorang tokoh pers kenamaan di Amerika Serikat yang pada tahun 1903 mendambakan didirikannya “School of Journalism” sebagai lembaga pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan para wartawan. Gagasan Pulitzer ini mendapatkan tanggapan positif dari Charles Eliot dan Nicholas Murray Butler masing-masing Rektor University dan Columbia University karena ternyata journalism tidak hanya mempelajari dan meneliti hal-hal yang bersangkutan dengan persuratkabaran semata-mata, tetapi juga media massa lainnya, antara lain radio dan televisi. Selain menyiarkan pemberitaan, radio dan televisi juga menyiarkan produk-produk siaran lainnya. Maka journalism berkembang menjadi mass communication.
Dalam perkembangan selanjutnya, mass communication dianggap tidak tepat lagi karena tidak merupakan proses komunikasi yang menyeluruh. Penelitian yang di lakukan oleh Paul Lazarfeld, Bernard Berelson, Hazel Gaudet, Elihu Katz, Robert Merton, Frank Staton, Wilbur Scramm, Everett M. Rogers, dan para cendekiawan lainnya menunjukkan bahwa gejala sosial yang diakibatkan oleh media massa tidak hanya berlangsung satu tahap, tetapi banyak tahap. Ini di kenal dengan two-step communication dan multistep flow communication. Pengambilan keputusan banyak dilakukan atas dasar hasil komunikasi antarpersona (interpersonal communication) dan komunikasi kelompok (group communication) sebagai kelanjutan dari komunikasi massa (mass communication).
Oleh sebab itulah di Amerika Serikat muncul communication science atau kadang-kadang dinamakan juga communicology ilmu yang mempelajari gejala-gejala sosial sebagai akibat dari proses komunikasi massa, komunikasi kelompok, dan komunikasi antarpersona. Kebutuhan orang-orang Amerika akan science of communication tampak sudah sejak tahun 1940-an, pada waktu seorang sarjana bernama Carl I. Hovland menampilkan definisinya mengenai ilmu komunikasi. Hovland mendefinisikan science of communication sebagai: “a systematic attempt to formulate in rigorous fashion the principles by which information is transmitted and opinions and attitudes are formed”.
Seperti halnya dengan ilmu publisistik di Jerman, ilmu komunikasi yang mula-mula timbul di Amerika Serikat, juga merupakan pertumbuhan dari pengetahuan yang menetapkan pers sebagai obyek studi ilmiah. Jika di Jerman namanya Zeitungswissenschaft di Amerika namanya journalism.
Surat kabar pertama yang lahir di Amerika serikat ialah pada tahun 1672, tetapi sampai berakhirnya abad 19 belum terdapat pemikiran untuk mengandakan pendidikan jurnalistik tingkat tinggi seperti yang kita kenal sekarang. Pada tahun 1869 Robert E Lee, bekas panglima bagian selatan dalam perang saudara Amerika Serikat yang kemudian menjadi Rector Washington College pernah mengajarkan studi jurnalistik. Tetapi yang menjadi kenyataan ialah cita-cita Joseph Pulitzer tokoh histories wartawan kenamaan, yang mendambakan adanya School of Journalism. Ini diucapkannya pada tahun 1903 sambil menyisihkan uang sebesar dua setengah juta dolar dari warisannya untuk keperluan itu.

Betapa masih mudanya ilmu komunikasi ini, cobalah simak sekilas saja sejarah pertumbuhan bidang ini. Studi sosial ilmiah mengenai komunikasi sendiri sebenarnya baru dimulai pada akhir 1930-an di Amerika Serikat .Sementara komunikasi baru muncul sebagai disiplin akademis tersendiri pada akhir 1940 an. Salah satu momennya ditandai oleh pembentukan Institut Penelitian Komunikasi (Institute of Communication Research) di Universitas Illinois pada 1948 yang dipimpin oleh salah seorang pakar dan perintis ilmu komunikasi terkemuka, Wilbur Schramm bertolak dari keberhasilan di Illinois ini, sejumlah unit penelitian serupa kemudian dibentuk di sejumlah universitas terkemuka di Barat Tengah Amerika, khususnya di Michigan State University Universitas Minnesota, dan Universitas Wisconsin.

Studi Terhadap Media Radio
Sebelum Perang Dunia I, riset telefoni radio terutama dipusatkan pada pengembangan cara yang aman untuk berkomunikasi antara dua titik. Siaran-siaran Conrad membantu mengubah jalan pikiran para eksekutif Westinghouse dan meyakinkan mereka dalam potensi riil radio adalah sebagai medium massa. Pada tahun 1920, Westinghouse memindahkan studionya Conrad dan pemancarnya ke pabriknya di Pittsburgh mengajukan permohonan izin, dan pada tanggal 2 November stasiun radio komersial yang pertama KDKA, mulai mengadakan siaran. Stasiun itu segera sukses, sebagaimana diharapkan siaran-siaran radio tetap stasiun itu menciptakan permintaan besar bagi pesawat-pesawat radio buatan perusahaan ini, yang sudah disederhanakan agar mudah dipakai oleh pengguna-pengguna yang tidak mengetahui teknik. Pabrik-pabrik radio lainnya dengan cepat mengikuti jejak Westinghouse. Dua belas tahun kemudian sekitar setengah dari semua stasiun di Amerika serikat dioperasikan oleh pabrik-pabrik radio dan seperlima oleh para penjual radio.
Mulai tahun 1920 masyarakat Amerika telah dapat menikmati radio siaran secara teratur berbagai programnya. Dan pada tanggal 20 November 1920 stasiun radio KDKA menyiarkan kegiatan pemilihan umum untuk memilih Presiden (Harding-Cox Presidential Election) yang dianggap sebagai penyiaran berita pertama secara meluas dan teratur kepada masyarakat.

Perkembangan Televisi
Ketika RCA memperkenalkan siaran televisi hidup di Pekan Raya New York tahun 1939, para pengunjung terheran-heran walau tidak sepenuhnya terkejut pada apa yang mereka lihat. Siaran-siaran langsung olahraga dan berita, hiburan dan pidato-pidato politik yang menggabungkan gambar dengan suara telah puluhan tahun ditunggu-tunggu. Perkembangan televisi pada kenyataannya adalah proses yang jauh lebih lama dibandingkan dengan yang disadari oleh kebanyakan orang sekarang. Rintisan dan ciri-ciri dominannya bisa ditelusuri sampai ke tahun 1830-an pada penemuan-penemuan fotografi serta telegraf listik yang hampir bersamaan itu. Selama hampir setengah abad, masing-masing telah berkembang pada jalur yang sangat berbeda tetapi lama kelamaan menjadi bertemu. Ketika kedua teknologi itu menjadi lebih baik dan lebih murah, dengan cepat tersebar memasuki hampir segala segi kehidupan publik dan pribadi.

Efek kehadiran Media Elektronik ini begitu hebatnya sehingga mengundang bebarapa ahli untuk mengkaji fenomena ini. Dengan demikian pengkajian komunikasi berkembang kearah komunikasi massa dan pada perkembangan selanjutnya pengkajian ke arah komunikasi sains.
Dalam perkembangan selanjutnya akibat pengaruh kemajuan teknologi komunikasi, istilah mass communication dianggap tidak tepat lagi, karena ternyata tidak lagi merupakan proses yang total. Penelitian yang dilakukan oleh Paul Lazarsfeld, Bernard Berelson, Hazel Gaudet, Elihu Katz, Robert Merton, Frank Stanton, Wilbur Schramm, Everett M Rogers, dan para pakar lainnya, menunjukkan bahwa fenomena sosial akibat terpaan media massa hanya merupakan satu tahap saja; ada tahap kedua, ketiga dan tahap-tahap berikutnya yang meneruskan pesan-pesan dari media massa dari mulut ke mulut yang justru dampaknya sangat besar. Pengambilan keputusan banyak dilakukan atas dasar komunikasi antar pribadi secara tatap muka (interpersonal face to face communication).


BAB III
Sejarah Psikologi Komunikasi Sebagai Ilmu

Dilihat dari sejarah perkembangannya, komunikasi memang dibesarkan oleh para peneliti psikologi. Walaupun demikian komunikasi bukan subdisiplin dari pesikologi. Sebagai ilmu, komunikasi menembus banyak disiplin ilmu. Sebagai gejala perilaku, komunikasi dipelajari bermacam-macam disiplin ilmu, antara lain sosiologi dan psikologi. Dance (1967) mengartikan komunikasi sebagai usaha “menimbulkan respon melalui lambang–lambang verbal” ketika lambang–lambang verbal tersebut bertindak sebagai stimuli kalau dilihat dari psikologi behaviorisme (Rahamat, 2001: 3). Ditambahkan Raymond S. Ross (1974:b7) bahwa komunikasi sebagai proses transaksional yang meliputi pemisahan, dan pemeliharaan bersama lambang secara kognitif, begitu rupa sehingga membantu orang lain untuk mengeluarkan dari pengalamannya sendiri arti atau respons yang sama dengan yang dimaksud oleh sumber (idem).

Psikologi dan komunikasi tidak terlepas hubungannya. Dalam psikologi, stimuli mempunyai makna yang luas, meliputi segala penyampaian energi, gelombang suara, tanda di antara tempat, sistem organisme. Kata komunikasi dipergunakan sebagai proses, pesan, pengaruh, atau secara khusus sebagai pesan penyampaian energi dari alat–alat indera ke otak, pada peristiwa penerimaan dan pengolahan informasi, pada proses saling pengaruh di antara berbagai system, yang disebut dengan organisme. Tetapi psikologi tidak hanya mengulas komunikasi diantara neuron. Psikologi mencoba menganalisis seluruh komponen yang terlibat dalam proses komunikasi. Pada diri komunikan serta fakor–fakor internal maupun eksternal yang mempengaruhi perilaku komunikasinya. Misalnya komunikasi terapetik.

Psikologi mencoba menganalisis seluruh komponen yang terlibat dalam proses komunikasi. Pada diri komunikan (komunikan di sini di artikan setiap peserta komunikasi), komunikasi memberikan karakteristik manusia komunikan serta factor-faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi perilaku komunikasinya. Akhirnya komunikasi boleh ditujukan: untukmemberikan informasi, menghibur atau mempengaruhi. Yang ketiga, lazim dikenal komunikasi persuasive, amat erat kaitannya dengan psikologi. Persuasive sendiri dapat didefinisikan sebagai proses mempengaruhi dan mengendalikan perilaku orang lain melalui pendekatan psikologis. Ketika komunikasi dikenal sebagai proses mempengaruhi orang lain, disiplin-disiplin lain menambah perhatian yang sama besarnya seperti psikologi. Para ilmuan dengan berbagai latarbelakang ilmunya dilukiskan Goerge A. Miller sebagai “participating in and contributing to one of the great intellectual adventures of the twentieth century” (ikut serta dalam dan bersama-sama memberikan sumbangan pada salah satu petualangan intelektual besar pada abad kedua puluh).

Bila berbagai disiplin mempelajari komunikasi, apa yang membedahkan pendekatan psikologi dengan pendekatan yang lain? Adakah ciri khas pendekatan psikologi, sehingga kata “psikologi komunikasi” dapat dipertanggungjawabkan? Komunikasi telah ditelaah dari berbagai segi: antropologi, biologi, ekonomi, sosiologi, linguistic, psikologi, politik, matematik, engineering, neuofisiologi, filsafat dan sebagainya (Budd dan Ruben, 1972 dalam Rahmat, 2001: 7). Yang agak menetap mempelajari komunikasi adalah sosiologi, filsafat dan psikologi. Sosiologi mempelajari interaksi social. Interaksi harus didahului oleh kontak dan komunikasi. Karena itu setiap buku sosiologi menyinggung komunikasi. Dalam dunia modern komunikasi bukan saja mendasari interaksi social. Teknologi komunikasi telah berkembang begitu rupa sehingga tidak ada satu maqsyarakat modern yang mampu bertahan tanpa komunikasi.

Filsafat sudah lama menaruh perhatian pada komunikasi, sejak kelompoh sophist yang menjual retorika pada orang-orang Yunani. Aritoteles sendiri menulis De Arte Rhetorika. Tetapi filsafat tidak melihat komunikasi sebagai alat untuk memperkokoh tujuan kelompok, seperti pandangan sosiologi. Filsafat meneliti komunikasi secara kritis dan dialektis. Filsafat mempersoalkan apakah hakekat manusia komunikan, dan bagaimana dia menggunakan komunikasi untuk berhubungan dengan realitas lain di alam semesta ini; apakah kemampuan berkomunikasi ditentukan oleh sifat-sifat jiwa manusia atau oleh pengalaman; bagaimana proses komunikasi berlangsung sejak kognisi, ke afeksi, sampai perilaku; apakah medium komunikasi merupakan factor sentral dalam proses penilaian manusia; dan sebagainya. Bila sosiologi melihat posisi komunikasi sebagaiu integrator social, filsafat melihat posisi komunikasi dalam hubungan timbale balik antara manuisa dengan alam semesta. Kaum fenomenologi misalnya melihat objek pesan sebagai kesadaran dinamis. Pesan ditelaah dengan menghubungkannya pada kondisi-kondisi empiris yang menjadi konteks pesan tersebut (Lanigan, 1979 dalam Rahmat, 2001: 8).

Psikologi juga meneliti kesadaran dan pengalaman manusia. Psikologi terutama mengarahkan perhatiannya pada perilaku manusia dan mencoba menyimpulkan proses kesadaran yang menyebabkan terjadinya perilaku itu. Bila sosiologi komunikasi pada interaksi social, filsafat pada hubungan manusia dengan relaitas lainnya, psikologi pada perilaku individu komunikan.
Fisher menyebut empat ciri pendekatan psikologi pada komunikasi: penerimaan stimuli secara indrawi (sensory reception of stimuli), proses yang mengantarai stimuli dan respons (internal mediation of stimuli), prediksi respons (prediction of respons), dan peneguhan respons (reinforcement of rensponses). Psikologi melihat komunikasi dimulai dengan dikenainya masukan kepada organ-organ pengindraan kita yang berupa data. Stimuli berbentuk orang, pesan, suara, warna-pokoknya segala hal yang mempengaruhi kita. Ucapan, “Hai, apa kabar,” merupakan suatu stimuli yang terdiri dari berbagai stimuli: pemandangan, suara, penciuman, dan sebagainya. Stimuli ini kemudian diolah dalam jiwa kita-dalam “kotak hitam” yang tidak pernah kita ketahui. Kita hanya mengambil keswimpulan tentang proses yang terjadi pada “kotak hitam” dari respon yang tampak. Kita mengetahui bahwa ia tersenym, tepuk tangan, dan meloncat-loncat, pasti ia dalam keadaan gembira.

Psikologi komunikasi juga melihat bagaimana respons yang terjadi pada masa lalu dapat meramalkan respons yang akan datang. Kita harus mengetahui sejarah respons sebelum meramalkan respon individu masa ini. Dari sinilah timbul perhatian pada gudang memori (memory storage) dan set (penghubung masa lalu masa sekarang). Salah satu unsur sejarah respons adalah peneguhan. Peneguhan adalah respons lingkungan (atau orang lain pada respons organisme yang asli). Bergera dan Lambert menyebutnya feedback (umpan balik). Fisher tetap menyebutnya peneguhan saja (Fisher, 1978: 136-142 dalam Rahmat, 2001: 9).
Dengan demikian dapat dipahami bahwa perkembangan psikologi komunikasi tidak terlepas dikontribusi disiplin ilmu lain terutama: filsafat, sosiologi, antropologi maupun psikologi itu sendiri. Dengan kontribusi ilmu-ilmu tersebut lahirlah psikologi komunikasi sebagai ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan dan mengenadalikan peristiwa mental dan behavioural dalam komunikasi.

Teori yang mempangaruhi perkembangan psikologi komunikasi
Grand Theory
Grand Theory adalah teori besar, teori yang mempunyai cakupan secara luas, berlaku kapan, dimana dan oleh siapa saja. Bersifat universal dan komonal (tidak hanya memiliki satu golongan saja). Adapun yang dapat dikatakan sebagai grand teori dalam perkembangan ilmu komunikasi yang menyangkut dengan perilaku manusia adalah:
1. Teori Piaget
Tentang tingkat-tingkat perkembangan intelegensi menurutnya ada empat tingkatan perkembangan struktur kognitif yaitu:
- Intelegensi sensorismotor, terdapat pada anak berumur 0-1, 5/2 tahun. Kemampuan anak itu masih terbatas pada penginderaan rangsangan-rangsangan dan memberikan reaksi-reaksi motoris yang mekanistis.
- Representasi pada operasional, terjadi pada usia 2-7 tahun dalam fase itu terjadi pembentukan simbol-simbol untuk kelak memungkinkan anak itu berpikir. Sifat anak pada usia masih terpusat pada diri sendiri (egosentris).
- Operasi konkrit terjadi pada usia 7-11 tahun, pada tahap ini anak-anak tidak lagi egosentris, melainkan banyak berorientasi keluar, kepada objek-objek yang kongkrit . ia aktif dan banyak bergerak, tetapi perbuatan-perbuatannya selalu tidak dapat dilepaskan dari hal-hal yang kongkrit.
- Operasi format, terjadi antara 11-15 tahun, individu disini tidak lagi tertarik pada objek yang nyata atau kongkrit ia mampu menyusun kesimpulan-kesimpulan dan hipotesa-hipotesa atas dasar simbol-simbol semata-mata.
2. Teori Mc Dougall yang dikembangkan dengan teori instingnya.
Teori ini menyatakan bahwa insting adalah kecenderungan suatu tingkah laku tertentu dalam situasi tertentu, kecenderungan tingkah laku mana tidak dipelajari sebelumnya melainkan sudah merupakan bawaan sejak lahir. Pada manusia insting sudah banyak berkurang, tetap menurut Douglas insting ini pada manusia masih jelas nampak emosi.
3. Teori Kognisi individu yang dikembangkan oleh David Krech.
Teori ini menyatakana bahwa kognisi seseorang bukan suatu cermin dunia fisik namun ia lebih merupakan suatu bagian dari kepribadian yang didalamnya objek-objek yang terpilih kemudian memiliki sewaktu peranan yang besar, kesemuannya itu ditangkap dalam proses terbentuknya kognisi. Setiap organisasi kognisi memiliki dua faktor penentu utama yaitu faktor-faktor stimulus dan faktor-faktor personal.
4. Teori tongkat adaptasi (Heros, 1999)
Menurutnya ada tiga tingkatan adaptasi yaitu : stimulus yang direspon merupakan pusat perhatian, stimulus yang datang mendadak membentuk latar belakang menjadi pusat perhatian. Sisa-sisa pengalaman yang lalu dengan stimulus yang serupa aakan menarik perhatian. Dengan demikian semua stimulus memberikan batas hubungan tingkat adaptasi.
5. Teori kesimbangan dalam perubahan kognisi
Teori keseimbangan adalah suatu petunjuk keseimbangan yang berada dalam sistem kognisi kepada yang lebih luas bahwa unsur-unsur dari sistem membentuk kesatuan yang tidak bertentangan dalam interaksi.
6. Teori kohesivitas dalam kelompok (Scashore, 1954)
Kelompok yang lebih kecil rata-rata lebih kohesif daripada kelompok yang lebih besar. Begitu pula jangkauannya (range). Kohesivitas kelompok yang lebih besar dari pada kelompok yang lebih besar. Manusia lebih cenderung untuk merasa yang lebih sedikit.
7. Teori pembentukan kelompok (Loomes dan Beegle, 1950)
Menurutnya setiap kelompok dibentuk oleh salah satu faktor berikut ini:
- Ikatan pertalian keluarga
- Keanggotan kelompok sains
- Keanggotaan kelompok keagamaan
- Usia
- Jenis kelamin dan persamaan sikap
8. Teori peradaban manusia
Ibnu Khaldun perkembangan masyarakat mengacu kepada kaidah-kaidah sosial hanya dapat diketahui apabila data yang dikumpulkan itu dilakukan analisis banding serta dicari korelasinya. Kewujudan manusia dicirikan oleh kemajuan dan kejatuhan, malahan kemusnahan yang berulang kali. Peradaban manusia dapat diumpamakan turun naiknya gelombang lautan atau kehidupan organ manusia yang menempuh tahapan dari kelahiran anak-anak, dewasa, tua dan kematian (teori kebangkitan adab keruntuhan peradaban).

Oswald Spengler: kewujudan manusia dicirikan oleh kemajuan dan kejatuhan malahan kemusnahan yang berulang kali. Peradaban manusia dapat diumpakan turun naiknya gelombang lautan atau kehidupan organ manusia yang menempuh tahapan dari kelahiran anak-anak, dewasa, tua dan kematian. Suatu kebudayaan lahir pada suatu jiwa besar yang bangkit dari protospiritual, yaitu suatu bentuk dari tanpa bentuk, dan suatu bentukan dari tanpa ikatan penderitaan. Budaya akan mati manakala jiwa yang diaktualisasikan menurut jumlah kemungkinan penuh dalam bentukan orang-orang, bahasa, dokma, seni, negara dan ilmu pengetahuan kembali kepada pratospiritual peradaban (civilitation) adalah bagian terakhir dari perkembangan setiap kebudayaan (teori kebangkitan adab keruntuhan peradaban)

9. Teori perkembangan masyarakat (Ferdinan Tonnies)
Perkembangan masyarakat atau sistem sosial sebagai perubanan linear dari kecil (sederhana) sampai menjadi besar (kompleks). Atau dari Gemeinschaft ke gesellschaft. Masyarakat adalah karya cipta manusia, yang merupakan usaha manusia untuk mengadakan dan memelihara relasi-relasi timbal balik yang mantap. Semua relasi sosial itu adalah ciptaan kemauan manusia yang mendasari kemauan masyarakat itu sendiri tediri dari dua jenis yaitu sweckwille atau arbitarywill, kemauan rasional yang hendak mencapai suatu tujuan; dan tribewil atau essenstialwill, dorongan batin berupa perasaan. Dua bentuk kemauan itu menjelaskan kelahiran dua jenis utama kelompok sosial dan relasi sosial yang dinamakan gemeischaft dan gesellschaft.

10. Teori evolusi budaya (Jullian H. Stewart)
Budaya manusia itu berkembang menurut beberapa arah yang berbeda. Revolusi budaya tidak bersifat unilinier, bahkan multilinier. Evolusi manusia bukanlah semata-mata biologi belaka, malahan merupakan interaksi antara ciri-ciri fisik dan budaya, setiap ciri itu saling mempengaruhi satu sama lain. Manusia itu mempunyai upaya untuk menciptakan penyelesaian-penyelesaian yang rasional dalam kehidupan mereka, terutama dalam alam dan masalah-masalaha teknis dan juga mereka berupaya untuk mentransformasi penyelesaian tersebut kepada generasi berikut dan anggota lain dalam masyarakatnya (teori neoevolusionis).

Middle Range Theory
Adalah teori tengah, teori ini didasarkan pada fakta sosial, teori ini lahir sebagai studi empirik (lapangan) adapun yang tergolong dalam empirik (lapangan) ini adalah:
1. Expeclancy theory of motivation
Teori ini sepenuhnya bergantung pada harapan seseorang terhadap reward menyatakan bahwa motivasi seseorang untuk mencapai sesuatu tergantung pada produk atau hasil kali estimasi seseorang tentang taraf kemungkinan sukses apabila ia mengajarkan suatu itu dengan nilai yang akan diperoleh atas kesuksesan tersebut
2. Achievement motivation theory (McCelland)
Suatu kecenderungan untuk mengatasi hambatan/peringatan menyelesaian tugas rumit melalui kekuatan usaha.
3. Two factor theory; kepuasan manusia dalam bekerja
4. Teori penyimpangan; Teori differential association (Edwin H. Suterland) bersumber dari pergaulan yang berbeda
5. Teori Labeling (Edwin M. Lemert) seseorang menyimpang karena adanya proses labeling berupa julukan, cap, etiket oleh masyarakat
6. Teori Merton: merupakan bantahan-bantahan teori di atas (yang hanya memandang sisi mikro)
7. Teori penularan (Le Bon)
Dalam suatu kerumuman tiap perasaan dan tindakan bersifat menular, hanya mengikuti naluri, tidak rasional dan tidak mampu mengendalikan perilaku sendiri
8. Teori konvergensi (Horton and Hunt)
Perilaku kerumunan muncul dari sejumlah orang yang mempunyai dorongan, maksud dan kebutuhan serupa
9. Teori Malthus; jumlah penduduk berkembang menurut deret ukur, sementara jumlah makanan hanya dapat ditingkatkan menurut deret hitung
10. Teori transisi demografi; menyangkal teori Malthus
11. Teori Frustasi agresi; orang akan melakukan agresi manakala usaha mencapai kepuasannya terhalangi. Jika agresinya tidak ditujukan pada pihak yang menghalangi
12.Teori fakta sosial; teori fungsionalisme struktural (Robert K. Merton); menekankan pada kesatuan dan menyebabkan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Menurutnya, masyarakatnya suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian yang saling berkaitan dan menyatu dalam keseimbagnan. Asumsi dasar; setiap struktur dalam sistem sosial, fungsional terhadap lainnya.


BAB IV
Faktor-faktor dari Disiplin Ilmu Tersebut Sehingga Menjadi Disiplin Ilmu Tersendiri yaitu Psikologi Komunikasi.

Bahwa manusia dalam berkomunikasi tidak hanya melalui proses pertukaran pesan yang bermakan tetapi juga factor kepribadian ikut di dalamnya. Kepribadian terbentuk sepanjang hidup kita. Selama itu pula komunikasi menjadi penting untuk pertumbuhan pribadi kita. Melalui komunikasi kita menumakkan diri kita, mengembangkan konsep diri, dan menetapkan hubungan kita dengan dunia di sekitar kita. Hubungan kita dengan orang lain akan menentukan kualitas hidup kita. Bila orang lain tidak memahami gagasan anda, bila pesan anda menjengkelkan mereka, bila anda tidak berhasil mengatasi masalah pelit karena orang lain menentang pendapat anda dan tidak mau membantu anda, bila semakin sering anda berkomunikasi semakin jauh jarak anda dengan mereka. Bila anda selalu gagal untuk mendorong orang lain bertindak. Anda telah gagal dalam komunikasi. Komunikasi anda tidak efektif.

Komunikasi efektif seperti dinyatakan Ashley Montagu bahwa kita belajar menjadi manusia melalui komunikasi. Anak kecil hanyalah seonggok daging sampai ia belajar mengungkapkan perasaaan dan kebutuhannya melalui tangisan, tendangan atau senyuman. Segera setelah ia berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya, terbentuklah perlahan-lahan apa yang kita sebut kepribadiaan. Bagaimana ia menafsirkan pesan yang disampaikan orang lain dan bagaimana ia menyampaikan pesannya kepada orang lain, menentukan kepribadiannya. Manusia bukan dibentuk oleh lingkungan, tetapi oleh caranya menerjemahkan pesan-pesan lingkungan yang diterimanya. Wajah ramah seorang ibu akan menimbulkan kehangatan bila diartikan si anak sebagai ungkapan kasih sayang. Wajah yang sama akan melahirkan kebenciaan bila anak memahaminya sebagai usaha ibu tiri untuk menarik simpati anak yang ayahnya telah ia rebut.

Bagaimana tanda-tanda komunikasi yang efektif? komunikasi yang efektif menurut Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss (1974:9-13) paling tidak menimbulkan lima hal: pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik dan tindakan.

Pengertian
Pengertian artinya penerimaan yang cermat dari isi stimuli seperti yang dimaksud oleh komunikator. Menurut cerita, seorang pemimpin pasukan VOC bermaksud menghormati seorang pangeran Madura. Untuk itu, dipegangnya tangan sang permaisuri dan diciumnya. Sang pangeran marah. Ia mencabut kerisnya, menusuk Belanda itu dan terjadilah bertahun-tahun perang VOC dengan penduduk Madura, sehingga ribuan korban jatuh. Kita tidak tahu apakah cerita itu benar atau tidak, tetapi betapa sering kita bertengkar hanya karena pesan kita diartikan lain oleh orang yang kita ajak bicara. Kegagalan menerima isi pesan secara cermat disebut kegagalan komunikasi primer (primary breakdown in communication). Untuk menghindari hal ini kita perlu memahami paling tidak psikologi pesan dan psikologi komunikator.

Kesenangan
Tidak semua komunikasi ditujukan untuk menyampaikan informasi dan membentuk pengertian. Ketika kita mengucapkan “Selamat pagi, apa kabar?” kita tidak bermaksud mencari keterangan. Komunikasi itu hanya dilakukan untuk mengupayakan agar orang lain merasa apa yang disebut analisis transaksional sebagai “saya oke kamu oke’. Komunikasi ini lazim disebut komunikasi fatis (phatic communication), dimaksudkan untuk menimbulkan kesenangan. Komunikasi inilah yang menjadikan hubungan kita hangat, akrab, dan menyenangkan. Ini memerlukan psikologi tentang system komunikasi interpersonal.

Mempengaruhi Sikap
Paling sering kita melakukan komunikasi untuk mempengaruhi orang lain. Khatib ingin membangkitkan sikap beragama dan mendorong jemaah beribadah lebih baik. Politisi ingin menciptakan citra yang baik pada pemilihnya, bukan untuk masuk surga, tetapi masuk untuk masuk DPR dan menghindari masuk kotak. Guru ingin mengajak muridnya lebih mencintai ilmu pengetahuan. Pemasang iklan ingin merangsang selera konsumen dan mendesaknya untuk membeli. Sering jejaka ingin meyakinkan pacarnya bahwa ia cukup “bonafid” untuk mencintai dan dicintai. Semua ini adalah komunikasi persuasive. Komunikasi persuasive memerlukan pemahaman tentang factor-faktor pada diri komunikator, dan pesan yang menimbulkan efek pada komunikate. Persuasi didefinisikan sebagai proses mempengaruhi pendapat, sikap dan tindakan orang dengan menggunakan manipulasi psikologi sehingga orang tersebut bertindak seperti atas kehendaknya sendiri (Kamus ilmu komunikasi, 1979) para psikologi memang sering bergabung dengan komunikolog justru pada bidang persuasi.

Hubungan Sosial yang Baik
Komunikasi yang ditujukan untuk menumbuhkan hubungan social yang baik. Manusia adalah makhluk social yang tidak tahan hidup sendiri. Kita ingin berhubungan dengan orang lain secara positif. Abraham Maslow (1980;80-92) menyebutnya “kebutuhan akan cinta” atau “belongingness”, William Schutz (1966) memerinci kebutuhan social ini ke dalam tiga hal inclusion, control, affection. Kebutuhan social adalah kebutuhan untuk menumbuhkan dan mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan orang lain dalam hal interaksi dan asosiasi (inclusion), pengendalian dan kekuasaan (control), dan cinta serta kasih saying (affection). Secara singkat, kita ingin bergabung dan berhubungan dengan orang lain, kita ingin mengendalikan dan dikendalikan, dan kita ingin mencintai dan dicintai. Kebutuhan social ini hanya dapat dipenuhi dengan komunikasi interpersonal yang efektif. Dewasa ini para ilmuwan social, filusuf, dan ahli agama sering berbicara tentang alienasi-merasa terasing, kesepian, dan kehilangan keakraban pada manusia modern. “Instead of affection, acceptance, love and joy resulting from being with other, many people feel alone, rejected, ignored, and unloved, tulis William D. Brooks dan Phillip Emmert (1977:5).

Bila orang gagal menumbuhkan hubungan interpersonal, apa yang terjadi ? Banyak kata Vance Packard (1974). Ia akan menjadi agresif, senang berkhayal, “dingin”, sakit fisik dan mental, dan menderita “flight syndrome” (ingin melahirkan diri dari lingkungannya). Packard mengutip penelitian Philip G. Zimbardo tentang hubungan antara anonimitas dengan agresi. Zimbardo menyimpan dua buah mobil bekas di dua tempat; wilayah Bronx di New York, dan Palo Alto di California. Daerah yang pertama terletak di kota besar, di mana terdapat tingkat anonimitas yang tinggi. Yang kedua adalah kota kecil, di mana orang saling mengenal dengan baik. Zimbardo ingin mengetahui apa yang akan terjadi pada mobil-mobil itu. Di Palo Alto mobil itu tidak disentuh orang selama satu minggu, kecuali pada waktu turun hujan; seorang pejalan kaki menutupkan kap mobil agar air hujan tidak membasahi mesin di dalam. Di wilayah Bronx dalam beberapa jam saja, di siang hari bolong, beberapa orang dewasa ramai-ramai mencopoti bagian-bagian mobil yang dapat digunakan di hadapan orang lain. Tidak ada yang mencoba mencegah perbuatan itu. Tahap berikutnya lebih menarik lagi. Anak-anak kecil mulai menghancurkan jendela depan dan belakang. Berikutnya, beberapa orang dewasa yang berpakaian perlente merusak apa yang masih bisa dirusak. Dalam tempo kurang dari tiga hari, mobil itu sudah menjadi onggokan besi tua yang menyedihkan.

Zimbardo berteori, anonimitas menjadikan orang agresif. Senang mencuri dan merusah, disamping kehilangan tanggungjawab social. Lalu, apa yang menyebabkan anonimitas ?kita menduganya pada kegagalan komunikasi interpersonal dalam menumbuhkan hubungan social yang baik. Bila kegagalan hubungan manusiawi yang timbul dari salah pengertian adalah kegagalan komunikasi sekunder (secondary breakdown). Supaya manusia tetap hidup secara social, untuk social survival, ia harus terampil dalam memahami factor-faktor yang mempengaruhi efektivitas komunikasi interpersonal seperti persepsi interpersonal, dan hubungan interpersonal.

Tindakan
Di atas telah membicarakan persuasi sebagai komunikasi untuk mempengaruhi sikap. Persuasi juga ditujukan untuk melahirkan tindakan yang dikendaki. Komunikasi untuk menimbulkan pengertian memang sukar, tetapi lebih sukar lagi mempengaruhi sikap. Jauh lebih sukar lagi mendorong orang bertindak. Tetapi ekfektivitas komunikasi biasanya diukur dari tindakan nyata yang dilakukan komunikate. Kampanye KB berhasil bila akseptor mulai menyediakan diri untuk dipasang AKDR (Alat kontrasepsi dalam rahim). Propaganda suatu partai politik efektif bila sekian juta memilih mencoblos lambang parpol itu. Pemasang iklan sukses bila orang membeli barang yang ditawarkan. Mubaligh pun boleh bergembira bila orang beramai-ramai bukan saja menghadiri masjid, tetapi juga mendirikan salat.
Menimbulkan tindakan nyata memang indikator efektivitas yang paling penting. Karena itu untuk menimbulkan tindakan, kita harus berhasil terlebih dahulu menanamkan pengertian, membentuk dan mengubah sikap atau menumbuhkan hubungan yang baik. Tindakan adalah hasil kumulatif seluruh proses komunikasi. Ini bukan saja memerlukan pemahaman tentang seluruh mekanisme psikologis yang terlibat dalam proses komunikasi, tetapi juga faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku manusia.


Faktor-faktor Perilaku dalam perspektif psikologi
1. Aliran Psikodinamika
Aliran psikodinamika adalah teori yang menjelaskan tingkah laku manusia sebagai hasil tenaga yang beroperasi didalam pikiran, karena tanpa disadari individu, aliran ini menekankan pada adanya kekuatan yang berbeda tetapi pada umumnya,. Ahli penulis komunikasi memberi perhatian utama pada tiga proses mental :
a. Konflik diantara motif-motif yang menentang
b. Kecemasan tentang motif-motif yang tidak dapat diterima dan
c. Pertahanan terhadap motif-motif yang begitu tidak dapat diterima (Bootzin acocela,1980)
Sigmund Freud sebagai tokoh aliran ini pada tahun (1856-1939) mendasarkan alirannya pada kepribadian manusia pada dua ide yang sangat mendasar. Yang pertama bahwa tingkah laku manusia terutama tidak dikuasai akal tetapi oleh naluri-naluri irrasional, naluri menyerang dan terutama oleh naluri sex. Id kedua adalah bahwa sebagian kecil dari pikiran yang disadari yang paling besar mempengaruhi tingkah laku kita adalah ketidaksadaran suatu tempat penyimpanan ingatan dan keinginan yang tidak pernah timbul mencapai kesadaran suatu tempat penyimpanan ingatan dan keinginan yang tidak pernah timbul mencapai kesadaran atau telah ditekan yaitu didorong keluar dari kesadaran atau ditekan yaitu didorong keluar dari kesadaran sebab menimbulkan rasa takut atau malu dalam diri kita.

Berdasarkan dua id tersebut Freud (1920) membagi kepribadian manusia menjadi tiga yaitu, ego, id, super ego. Id yang beroperasi di dalam bagian ketidaksadaran terdiri dari dari naluri seksual dan naluri menyerang yang membentuk dasar tingkah laku manusia agar dapat memenuhi naluri-naluri prinsip kesenangan. Ego merupakan bagian kepribadian yang memikir, mengetahui, memecahkan masalah, peran pokok ego adalah mencari untuk menyenangkan id, tetapi dengan dibatasi kenyataan dan moralitas, ego beroperasi berdasarkan prinsip realitas. Super ego menjadi kode moral kepribadian, sama dengan apa yang disebut kata hati, tetapi lebih sedikit tegas. Fungsi pokok super ego dalam penguasaan naluri ide, super ego juga menentukan cita-cita mana yang akan diperjuangkan. Sedangkan tekanan Freud dalam aliran psikodinamika lebih banyak meletakkan pada tekanan ego dibandingkan yang dilakukan murid-muridnya sebagaimana Freud memandang ide, sebagai motivator dasar didalam tingkah laku manusia. Ego memilih atau mengatur dorongan ide, tetapi hal tersebut tidak mampu menggantikan tiap dorongan ide, tetapi hal tersebut tidak mampu menggantikan tiap dorongan itu sendiri oleh karena itu sekalipun fungsinya mungkin rumit ego tidak menjelaskan kepribadian sebenarnya ia adalah hak istimewa dari ide.

2. Aliran Behavioral
Beberapa aliran psikologi yang dapat digolongkan sebagai pencetus dan penganut aliran behavioral yaitu William Daugall (1871-1938) yang mengembangkan psikologi posposif (bertujuan) atau psikologi hormik (hormic psychology), Mc Daugal yang mengembangkan alirannya bahwa psikologi hendaknya hanya membicarakan atau mempelajari tingkah laku manusia yang saja nyata kalau psikologi hendak dikatakan sebagai ilmu yang objektif John Broades Watson (1878-1958) mengembangkan aliran behaviorisme di Amerika dalam pendapatnya mengenai teori psikologi bahwa psikologi harus dipelajari seperti orang mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam, karena psikologi harus dibatasi dengan tata pada penyelidikan tentang tingkah laku yang nyata dan dia berpendapat bahwa psikologi harus kesadaran yang hanya saja dan dia berpendapat bahwa psikologi harus menjadi ilmu yang objektif karena itu tidak mengakui adanya kesadaran yang hanya dapat diteliti metode intropeksi. Edwin B. Holt (1873-1946) dalam ajarannya berpendapat bahwa tingkah laku adalah satu-satunya kunci untuk menerangkan jiwa. Edward Chase Tolman (1886-1959) ia mengatakan bahwa tingkah laku manusia secara keseluruhan disebut tingkah laku moral. Tingkah laku moral ini terdiri dari beberapa tokoh ini maka behavioralisme ini lahir sebagai reaksi teori psikodinamik, sehingga para pencetus teori hebaviorisme memberi penjelasan bahwa tidak bertanggung jawab dan tidak ilmiah membicarakan tentang psikologi hanya semata-mata didasarkan pada kejadian-kejadian subjektif yaitu kejadian-kejadian yang diperkirakan terjadi didalam tak dapat diamati atau diukur (umpamanya fungsi id, ego, super ego).

Berdasarkan behaviorisme klasik orang terlibat dalam tingkah laku tertentu karena mereka telah mempelajari pengalaman-pengalaman terdahulu. Menghubungkan tingkah laku tersebut dengan hadiah-hadiah.

Dalam beberapa tahun terakhir ini teori telah meluas dengan cepat, banyak ahli psikologi behavioral sekarang merasa bahwa tingkah lain tak hanya dapat dijelaskan berdasarkan pada hadiah maupun hukuman eksternal pikiran dan perasaan.
Behaviorisme kognitif, ajaran ini memperhatikan proses-proses mental telah meningkatkan suatu bidang penelitian baru yang utuh, disebut behaviorisme kognitif adalah suatu jawaban bukan terutama terhadap kejadian-kejadian diluar seperti proses mental mengenai kejadian tersebut cara kita mengangartikannya (Mahony 1974: Meichn baum 1977).

Gambaran yang bagus tentang behavioralisme kognitif adalah aliran yang dikembangkan oleh Walter Mischel (1973) yaitu bahwa tingkah laku merupakan hasil saling berhubungan antara karakteristik pribadi dengan lingkungan. Aliran yang dikembangkan oleh Mischel mempunyai keunggulan dan kelemahan yang dimiliki pada umumnya dari behaviorisme kognitif.

3. Aliran Humanistik
Aliran psikologi humanistik yang dikembangkan dan dipelopori oleh Abraham Maslow, lahir dan berkembang dengan menentang aliran yang dikembangkan oleh aliran behaviorisme sangat prakmatis terhadap exsistensi manusia. Maka kaum yang mengikuti aliran humanistic berpendapat bahwa penyesuaian yang ideal merupakan lebih dari sekadar penyesuaian secara sederhana atau jaga penyesuaian yang berhasil dengan keadaan nyata yang terdapat dalam kehidupan anda. Agaknya ini berarti pengembangan seluruh kemampuan yang anda miliki setinggi-tingginya seluruh kemampuan yang anda miliki setinggi-tingginya. Untuk menggambarkan pendekatan idealistic pada penyesuaian dirasa perlu untuk dilihat pada dua teori humanistic yang sangat berpengaruh yaitu Abraham Maslow dan Carl Roegers.

Abraham Maslow (1908-1970) merasa bahwa banyak rintangan penyesuaian yang diajarkan oleh aliran teori psikodinamika/psikoanalisis dan pihak teorisme pemenuhan biologis, mendapatkan teman, belajar menghargai diri sendiri sebenarnya hanyalah persiapan untuk tantangan yang tertinggi aktualisasi diri, dibatasi sebagai pemenuhan secara sempurna potensi unik seseorang. Maslow mengurutkan manusia sebagai berikut: kebutuhan fisik, kebutuhan keamanan, kebutuhan cinta dan menjadi anggota suatu kelompok.

4. Aliran Eksistensial
Teori eksistensial ini dikembangkan oleh seorang tokoh pemikir pada tahun 1955 yaitu Victor Frank, sehingga ia menjadi seorang pemikir yang terkenal dalam bidang psikologi yang menyangkut tentang eksistensialis, dia beranggapan bahwa aliran eksistensial sesuai dengan apa yang dikatakan bahwa psikologi tradisional akan menghasilkan gambaran yang rancu dari keadaan manusia jika meninggalkan berbagai pertimbangan tentang kehidupan rohani, sehingga dalam sisi lain eksistensial dalam bidang psikologi mempelajari dan mengkaji tentang sesuatu pemikiran dinamis dari kepribadian. Misalnya, merek lebih mementingkan pada penanganan secara baik kemampuan individu dengan jalan mendorongnya. Idealnya bukan hanya mengurusnya dengan baik saja tetapi untuk berkembang menjadi sesuatu tergantung pada cita-cita sendiri.

Penganut eksistensial sangat menitikberatkan pada kesukaran dalam memekarkan pribadi agar dapat berkembang secara bebas untuk dapat menjadi kesulitan yang paling utama dalam pandangan mereka adalah konformias dan matealisme yang dikembangkan masyarakat industri modern. Umumnya eksistensial memiliki beberapa kritik tentang masyarakat modern. Mereka merasa bahwa dunia industri, oleh dorongan dari masyarakat akan menolak kebenaran dari diri hidup oleh karena itu tulisan para eksistensial sering berkaitan dengan tantangan tentang pengertian yang baru ditemukan kembali dalam kehidupan modern.

Pemikiran Frank diatas (1962) kekuatan motivasi utama dari kehidupan manusia bukanlah, keinginan untuk senang atau keinginan untuk berkuasa. Seperti yang dinyatakan oleh ahli psikodinamika, melainkan lebih banyak dalam berkeinginan untuk bermakna satu-satunya jalan untuk mendapatkan dari kehidupan kita adalah dengan jalan mengikuti nilainya, apa yang ia lakukan dengan beberapa cara untuk mencapai tujuan, memperhatikan orang lain dan mencoba merumuskan dengan kesulitan. Frank berpendapat bahwa spiritual tersebut merupakan kebutuhan mutlak untuk kesehatan psikis. Dengan tidak adanya berapa pengertian tentang makna dalam kehidupan kita, maka kita akan mampu berbuat pilihan yang secara sadar dan bertanggung jawab menjadi satu-satunya sumber dari martabat kita selaku manusia.



DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 1991. Psikologi Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Ardianto, Elvinaro dan Lukiati, 2004. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Davidoff, Linda L. 1988. Psikologi Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga
Effendi, Onong Uchjana. 1978. “Ilmu Publisistik dan Ilmu Komunikasi: Suatu Analisa terhadap Teori dan Perkembangannya”. Dalam Ihwal Komunikasi. Bandung: Fakultas Publisistik-Unpad.
---------------------------. 2003. Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra Aditya Bakti.
---------------------------. 2003. Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Effendi, Usman dan Juahya S. Paraja. 1984. Pengantar Psikologi. Angkasa: Bandung
Fidler, Roger. 2003. MediaMorfosis. Yogyakarta: Bentang Budaya
Hilgard, Ernest R. 1987. Pengantar Psikologi, Edisi Kedelapan. Jakarta, Penerbit Erlangga.
Ibrahim, Idi Subandy (ed). 2005. Critical Communication; Sebuah Pengantar Komperhensif Sejarah Perjumpaan Tradisi Kritis Eropa dan Tradisi Pragmatis Amerika. Bandung: Jalasutra.
Kertapati, Ton. 1986. Dasar-dasar Publisistik; Dalam Perkembangannya di Indonesia menjdi Ilmu Komunikasi. Jakarta: Bina Aksara.
Mustansyir, Rizal dan Munir, Misnal. 2001. Filsafat Ilmu. Yogyakarta, Pustaka Pelajar Offset.
Osborne, Richard. 2001. Filsafat untuk Pemula. Penerjemah P. Hardono Hadi. Penerbit Kanisius. Jogjakarta.
Prajarto, Nunung. 2004. “Komunikasi: Akar Sejarah dan Buah Tradisi Keilmuan”. Dalam Komunikasi, Negara dan Masyarakat. Editor Nunung Prajarto. Fisipol-UGM: Jogjakarta.
Rakhmat, Jalaluddin. 1993. “Prinsip-prinsip Komunikasi Menurut Al-Quran”. Bandung: Dalam Jurnal Komunikasi Audientia Vol 1, No. 1 Januari-Maret 1993
------------------------. 2001. Retorika Modern. Bandung: Remaja Rosdakarya.
------------------------. 2001. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.


NB: Tulisan ini ditulis sewaktu penulis menempuh pendidikan pascasarjana di Unpad Bandung (2005-2007)